Bukti Kepandaian dan Kecerdasan Imam Abu Hanifah Rahimahullah
Kecerdasan imam Abu Hanifah tidak perlu diragukan lagi, sebagaimana yang sudah saya tulis
di biografi imam Abu Hanifah sebelumnya. Kepandaian beliau membuat Imam Malik
Rahimahullah terkagum dan memujinya:
Ketika itu, Abu Hanifah menjumpai Imam Malik yang tengah duduk bersama beberapa
sahabatnya. Setelah Abu Hanifah keluar, Imam Malik menoleh kepada mereka dan berkata,
"Tahukah kalian, siapa dia?” mereka menjawab, "Tidak." Beliau berkata, "Dialah Nu’man bin
Tsabit yang seandainya berkata bahwa tiang masjid itu emas, niscaya perkataannya menjadi
dipakai orang sebagai argumen."
Tidaklah menjadi suatu yang berlebihan apa yang dikatakan Imam Malik dalam menggambarkan
diri Abu Hanifah, sebab memang beliau memiliki kekuatan dalam berhujjah, cepat daya
tangkapnya, cerdas dan tajam wawasannya. Sebagai bukti, saya di sini akan membawakan empat
kisah mengagumkan yang menunjukkan betapa cerdasnya beliau.
Kisah Pertama
Abu Hanifah vs Atheis
Sewaktu Abu Hanifah berjumpa dengan orang-orang atheis yang mengingkari eksistensi Al-
Khaliq. Beliau bercerita kepada mereka:
"Bagaimana pendapat kalian, jika ada sebuah kapal diberi muatan barang-barang, penuh dengan
barang-barang dan beban. Kapal tersebut mengarungi samudra. Gelombangnya kecil, anginnya
tenang. Akan tetapi setelah kapal sampai di tengah tiba-tiba terjadi badai besar. Anehnya kapal
terus berlayar dengan tenang sehingga tiba di tujuan sesuai rencana tanpa goncangan dan
berbelok arah, padahal tak ada nahkoda yang mengemudikan dan mengendalikan jalannya kapal.
Masuk akalkah cerita ini?"
Mereka berkata: "Tidak mungkin. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal, bahkan
oleh khayal sekalipun wahai syaikh."
Lalu Abu Hanifah berkata: "Subhanallah, kalian mengingkari adanya kapal yang berlayar sendiri
tanpa pengemudi, namun kalian mengakui bahwa alam semesta yang terdiri dari lautan yang
membentang, langit yang penuh bintang dan benda-benda langit serta burung yang berterbangan
tanpa adanya Pencipta yang sempurna pencipataanNya dan mengaturnya dengan cermat?!
Celakalah kalian, lantas apa yang membuat kalian ingkar kepada Allah?"
Kisah Kedua
Imam Abu Hanifah Mematahkan Tuduhan Yahudi Terhadap Utsman bin Affan
Ada seseorang yang dari Kufah yang disesatkan oleh Allah. Dia termasuk orang terpandang dan
didengar omongannya. Orang tersebut menuduh di hadapan orang banyak bahwa Utsman bin
Affan asalnya adalah Yahudi, lalu menganut Yahudi lagi setelah Islamnya.
Mendengar hal itu, Abu Hanifah bergegas menjumpai orang tersebut dan berkata, "Aku datang
kepadamu untuk meminang putrimu yang bernama Fulanah untuk seorang sahabatku."
Dia berkata, "Selamat atas kedatanganmu. Orang seperti anda tidak layak untuk ditolak
keperluannya wahai Abu Hanifah, akan tetapi siapakah peminang itu?"
Abu Hanifah menjawab, "Seorang yang termuka dan terhitung kaya ditengah kaumnya,
dermawan dan ringan tangan, hafal kitabullah, menghabiskan malam dengan satu rukuk dan
sering menangis karena takwa dan takutnya kepada Allah."
Laki-laki itu berkata, "Wah...wah.. cukup wahai Abu Hanifah, sebagian saja dari yang anda
sebutkan itu sudah cukup baginya untuk meminang seorang putri Amirul Mukminin."
Abu Hanifah berkata, "Hanya saja ada satu hal yang perlu anda pertimbangkan."
Dia bertanya, "Apakah itu?" Abu Hanifah menjawab, "Dia seorang Yahudi."
Mendengar hal itu orang tersebut terperanjat dan bertanya-tanya, "Yahudi?! Apakah anda ingin
saya menikahkan putri saya dengan orang Yahudi wahai Abu Hanifah? Demi Allah aku tidak
akan menikahkan putriku dengannya, walaupun dia memiliki segalanya dari yang awal hingga
akhir."
Lalu Abu Hanifah berkata, "Engkau menolak menikahkan putrimu dengan seorang Yahudi dan
engkau mengingkarinya dengan kerasnya, tapi kau sebarkan berita kepada orang-orang bahwa
Rasulullah telah menikahkan kedua putrinya dengan Yahudi (yakni Utsman bin Affan)?"
Seketika orang itu gemeteran lalu berkata, "Astaghfirullah, aku memohon ampun kepada Allah
atas kata-kata buruk yang aku ucapkan. Aku bertaubat dari tuduhan busuk yang saya
lontarkan." Istilah Kita, dia telah di SEKAK MAT
Kisah Ketiga
Imam Abu Hanifah Berdialog Dengan Seorang Khawarij
Ada seorang Khawarij bernama Adh-Dhahak asy-Syari. Beliau datang menemui Abu Hanifah
dan berkata Adh-Dhahak: Wahai Abu Hanifah bertaubatlah Anda.
Abu Hanifah: Bertaubat dari apa?
Abu Hanifah: Maukah anda berdiskusi dengan saya dalam persoalan ini? Adh-Dhahak: Baiklah, saya bersedia.
Adh-Dhahak: Dari pendapat Anda yang membenarkan diadakannya tahkim antara Ali dan
Muawiyyah.
Abu Hanifah: Bila kita nanti berselisih paham, siapa yang menjadi hakim di antara kita? Adh-Dhahak: Pilihlah sesuka Anda.
Adh-Dhahak: Ya saya rela.
Kisah Keempat
Abu Hanifah Memetahkan Argumen Jahmiyah
Abu Hanifah menoleh kepada seorang Khawarij lain yang menyertai orang itu lalu berkata Abu
Hanifah: Engkau menjadi hakim di antara kami. (dan kepada orang pertama beliau bertanya)
saya rela kawanmu menjadi hakim, apakah engkau rela?
Abu Hanifah: Bagaimana ini, engkau menerima tahkim atas apa yang terjadi antara saya dan
kamu tapi menolak dua sahabat Rasulullah yang bertahkim?
Maka orang itupun mati kutu dan tak sanggup berbicara sepatah katapun. Subhanaallah..
Jawaban yang cerdas.
Jahm bin Sofwan pentolan kelompok Jahmiyah yang sesat, penyebar bid’ah dan ajaran sesat di
bumi. Dia pernah mendatangi Abu Hanifah seraya berkata
Jahm: "Saya datang untuk membicarakan beberapa hal yang sudah saya persiapkan."
Abu Hanifah: "Berdialog denganmu adalah cela dan larut dengan apa yang engkau bicarakan
berarti neraka yang menyala-nyala."
Jahm: "Bagaimana bisa anda memvonis saya demikian padahal anda belum pernah bertemu
denganku sebelumnya dan belum mendengar pendapat-pendapat saya?"
Abu Hanifah: "Telah sampai kepada saya berita-berita tentangmu yang telah berpendapat dengan
pendapat yang tidak layak keluar dari mulut ahli kiblat (muslim)."
Jahm: "Anda menghakimi saya secara sepihak?"
Jahm: "Saya tidak ingin membicarakan atau menanyakan apa-apa kecuali tentang keimanan."
Jahm: "Saya memang sudah paham, namun saya meragukan salah satu bagiannya."
Abu Hanifah: "Orang-orang umum dan khusus sudah mengetahui perihal anda sehingga boleh
bagiku menghukumi dengan sesuatu yang telah mutawatir kabarnya tentang anda."
Abu Hanifah: "Apakah hingga saat ini kamu belum tahu juga tentang masalah itu hingga perlu
menanyakannya kepada saya?"
Abu Hanifah: "Keraguan dalam keimanan adalah kufur."
Abu Hanifah: "Silakan bertanya."
Jahm: "Anda tidak boleh menuduh saya kufur sebelum mendengar tentang apa yang
menyebabkan saya kufur."
Jahm: "Telah sampai kepadaku tentang seseorang yang mengenal dan mengakui Allah dalam
hatinya bahwa Dia tak punya sekutu, tak ada yang menyamaiNya dan mengetahui sifat-sifatNya,
lalu orang itu mati tanpa menyatakan dengan lisannya, orang ini dihukumi mukmin atau kafir?
Abu Hanifah: Dia mati dalam keadaan kafir dan menjadi penghuni neraka bila tidak menyatakan
dengan lidahnya apa yang diketahui oleh hatinya, selagi tidak ada penghalang baginya untuk
mengatakannya.
Jahm: Mengapa tidak dianggap sebagai mukmin padahal dia mengenal Allah dengan sebenar-
benarnya?"
Abu Hanifah: "Bila anda beriman kepada Al-Qur’an dan mau menjadikannya sebagai hujjah,
maka saya akan meneruskan bicara. Tapi jika engkau tidak beriman kepada Al-Qur’an dan tidak
menjadikannya sebagai hujjah, maka berarti saya sedang berbicara dengan orang yang
menentang Islam."
Jahm: "Bahkan saya mengimani Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai hujjah."
Abu Hanifah: "Sesungguhnya Allah menjadikan iman atas dua sendi, yaitu dengan hati dan lisan
bukan dengan salah satu saja darinya. Kitabullah dan hadits Rasulullah jelas-jelas menyatakan
hal itu:
َََُُُُّْْ َُُْ ُ قولوا آ َمنا ِبا َّ ِللَّ َو َما أن ِز َل ِإل ْينَا َو َما أن ِز َل ِإل ٰى ِإ ْب َرا ِهي َم َو ِإ ْس َما ِعي َل َو ِإ ْس َحا َق َو َي ْعقو َب َوالْ ْس َبا ِط َو َما أو ِت َي ُمو َس ٰى َو ِعي َس ٰى َو َما أو ِت َي
َََََُُّْْ ا ل ن ِب ي ُّ و َن ِم ن َر ِب ِه ْم لَ ن ف ِر ق َب ْي َن أ َح ٍد ِم ن ُه ْم َو ن َ ْح ُن ل ه ُ ُم ْس ِل ُم و َن
Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan
kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya,
dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari
Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk
patuh kepada-Nya".Al-Baqarah ayat 136
Dalam ayat di atas, Allah menyuruh mereka untuk mengucapkannya dengan lisan, tidak hanya
cukup dengan ma’rifah dan ilmu saja. Begitupula dengan hadits Rasulullah:
"Ucapkanlah Laa ilaaha illallaah, niscaya kalian akan beruntung."
Maka belumlah dikatakan beruntung bila hanya sekedar mengenal dan tidak dikukuhkan dengan
kata-kata. Rasulullah bersabda: "Akan dikeluarkan dari neraka barangsiapa mengucapkan
Laa ilaahaillallah...."
Dan Nabi tidak mengatakan: "Akan dikeluarkan dari api neraka barangsiapa yang mengenal
Allah..."
Kalau saja pernyataan lisan tidak diperlukan dan cukup hanya dengan sekedar pengetahuan,
niscaya iblis juga termasuk mukmin, sebab dia mengenal Rabbnya, tahu bahwa Allah lah yang
menciptakan dirinya, Dia pula yang menghidupkan dan mematikannya juga yang akan
membangkitkannya, tahu bahwa Allah yang menyesatkannya.
Allah Ta’ala berfirman tatkala menirukan perkataannya: "Saya lebih baik daripadanya: Engkau
ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah." Qs. Al-A’raf: 12
Kemudian berkata iblis: 'Ya Tuhanku (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari
(manusia) dibangkitkan." Qs. Al-Hijr: 36
Juga firman Allah Ta’ala: "Iblis menjawab: 'Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya
benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus." Qs. Al-A’raf: 16
Seandainya apa yang kamu katakan itu benar, niscaya banyaklah orang-orang kafir yang
dianggap beriman karena mengetahui Rabbnya walaupun mereka ingkar dengan lisannya.
Firman Allah: "Dan mereka mengingkarinya karena kedzaliman dan kesombongan (mereka)
padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya." Qs. An-Naml: 14
Padahal mereka tidak disebut mukmin meski meyakininya, justru dianggap kafir karena
kepalsuan lisan mereka.
Abu Hanifah terus menyerang Jahm bin Shafwan dengan hujjah-hujjah yang kuat, adakalanya
dengan Al-Qur’an dan adakalanya dengan hadits-hadits. Akhirnya orang itu kewalahan dan
tampaklah raut kehinaan dalam wajahnya. Dia enyah dari hadapan Abu Hanifah sambil
berkata, "Anda telah mengingatkan sesuatu yang saya lupakan, saya akan kembali kepada
anda." Lalu dia pergi untuk tidak kembali.
Subhanaallah... Subhanaallah... Betapa cerdasnya Imam Abu Hanifah, maka hal itu wajar jika
Imam Malik memuji kecerdasan beliau.
Begitulah Abu Hanifah menyebarkan dienullah dengan kekuatan argumen yang dianugrahkan
Allah kepadanya. Beliau menghadapi para penentang dengan argumen yang tepat.
Penulis: Admin
Referensi:
• Shuwaru Min Hayati at-Tabiin Dr.Abdurrahman Rafat Basya at-Tibyan edisi terjemahan Indo.

Comments
Post a Comment