Kisah Abu Darda Sahabat Nabi

 


Kisah Abu Darda Sahabat Nabi yang Zuhud Sebelum dan Sesudah Islam

Kisah Abu Darda- Nama aslinya adalah Uwaimir bin Malik al-Khazraji, yang berkunyah Abu

Darda', ia berasal dari Madinah dari suku al-Khazraj (kabilah Yaman yang pndah ke Madinah

dan menetap di sana), ibunya bernama Mahabbah binti Waqid bin Amir.

Kisah Abu Darda pada Masa Jahiliyah

Pada masa jahiliyah, Abu Darda adalah orang yang sangat rajin dalam menyembah berhala, ia

selalu bangun lebih awal hanya untuk memberikan pakaian yang bagus kepada berhala dan

memberinya minyak wangi, bahkan berhala tersebut diletakkan di tempat yang paling mulia di

rumahnya.

Ketika matahari sudah mulai berada di tengah-tengah, Abu Darda meninggalkan rumahnya

menuju tempat dia berniaga, dalam perjalanan, Abu Darda melihat jalan-jalan di Madinah

dipenuhi pasukan Muhammad Shalallahu alaihi wassalam yang pulang dari Badar, dia pun

memalingkan pandangannya.

Akan tetapi tidak lama kemudian, Abu Darda menemui orang dari suku Khazraj dan

menanyakan tentang ke adaan saudara dekatnya, yaitu Abdullah bin Rawahah yang sudah lebih

dulu masuk Islam : "Bagaimana keadaan saudaraku Abdullah bin Rawahah??"

Maka anak muda Khazraj menjawab "Abdullah bin Rawahah? ia telah berjuang di medan perang

dengan sangat baik, dia pulang dengan selamat dan meraih harta rampasan perang." Mendengar

jawaban orang tersebut, Abu Darda jadi merasa tenang atas keselamatan saudaranya.

Perlu sahabat Abana ketahui, Abu Darda menanykan kabar Abdullah bin Rawahah karna pada

masa jahiliyah keduanya sudah terjalin persaudaraan yang kuat. Manakala Islam telah datang,

Abdullah bin Rawahah langsung menyambut hidayah tersebut dengan cepat, sedangkan Abu

Darda masih berpaling dari al-Haq.

Namun, hal itu tidak menjadikan Abdullah bin Rawahah meninggalkan Abu Darda', karna

Abdullah bin Rawahah sering berkunjung ke rumahnya dan mengajaknya masuk Islam. sehingga

karna tangan Abdullah bin Rawahah lah Abu Darda masuk islam.

Kisah Abu Darda Masuk Islam

Setelah Abu Darda menanyakan kabar Abdullah bin Rawahah dia melanjutkan perjalanan dan

sampai lah ia ke tempat niaga, lalu ia duduk di kursinya yang mewah, dan mulai sibuk dengan

perdagangannya.

Di waktu yang sama, saudaranya Abdullah bin Rawahah datang ke rumahnya Abu Darda dengan

niat melakukan sesuatu. Setelah sampai di rumah Abu Darda, ia melihat ada Ummu Darda yang

sedang berada di halaman rumah sedangkan pintu rumahnya terbuka, maka Abdullah bin

Rawahah bertanya: "Dimana Abu Darda'??"

"Di tokonya, tidak lama lagi ia akan pulang" Jawab Ummu Darda

"Bolehkah saya masuk?" Tanya lagi

Ummu Darda menjawab: "Dengan senang hati" Lalu Ummu Darda menunjukan jalan kepada

Abu Darda, setelah itu Ummu Darda' pergi untuk melanjutkan kesibukannya dan mengurus

anaknya.

Tak disangka, Abdullah bin Rawahah malah masuk ke kamar tempat berhala-berhala Abu Darda,

dia mengeluarkan kapak yang sudah ia bawa dari rumah, lalu menghantamkannya pada berhala-

berhala tersebut, sambil berkata, "Ketahuilah apa saja yang disembah selain Allah adalah batil!! "

Setelah selesai dia pun meninggalkannya dan pulang.

Saat Ummu Darda menuju kamar berhala, dia langsung pingsan saat melihat berhalanya hancur

berkeping-keping. dan dia pun mulai menangis sambil menampar-nampar pipinya, sambil

berkata, "Kamu telah membuatku celaka wahai Ibnu Rawahah!!" kalimat tersebut dikatakan

berulang kali.

Tidak lama setelah itu Abu Darda pulang, dia melihat istrinya sedang menangis di depan pintu

kamar berhala, Abu Darda pun bertanya kepada istrinya, "Ada apa denganmu?"

Ummu Darda menjawab, "Saudaramu Abdullah bin Rawahah datang kepada kami ketika Engkau

tidak di rumah, dia melakukan apa yang Engkau lihat saat ini!."

Abu Darda melihat berhala nya yang sudah hancur berkeping-keping, amarahnya langsung naik,

dia ingin membalas perlakuan buruk kepada saudaranya. namun tiba-tiba kemarahannya mereda

sambil berpikir, jika memang berhala itu membawa kebaikan seharusnya ia bisa membela

dirinya sendiri saat dihancurkan.

Saat itu juga Abu Darda beranjak pergi menemui Abdullah bin Rawahah, lalu keduanya

menemui Rasulullah untuk mengumumkan keislaman Abu Darda sehingga Abu Darda orang

yang terakhir masuk islam dari marganya.

Kisah Abu Darda Setelah Masuk Islam

Sejak Abu Darda menerima Islam ia merasakan iman yang meresap relung hatinya. Abu Darda'

sangat menyesal dengan kebaikan-kebaikan yang ia lewatkan. Abu Darda' sangat sedih karena ia

tertinggal dengan kawan-kawannya yang lebih dulu masuk islam, ia iri karena kawan-kawannya

sudah banyak menghafal kitab Allah serta ibadahnya lebih banyak daripada dirinya.

Oleh karenanya Abu Darda' bertekad untuk mengejar teman-temannya dalam masalah menghafal

kitab ataupun dalam beribadah kepada Allah. Ia memutuskan untuk meninggalkan dunianya

untuk berkonsentrasi kepada Allah.

Mulai saat itulah Abu Darda bagaikan singa yang sangat kelaparan, Abu Darda sangat haus akan

Ilmu dan Ibadah. Manakala harta perniagaannya mengurangi kenikmatan beribadah, ia langsung

meninggalkannya tanpa ragu-ragu.

Subhanallah, kisah Abu Darda setelah menerima iman dan merasakan manisnya iman begitu luar

biasa. seolah-olah dunia tidak lebih berharga daripada solat 1 rakaat. Namun, bukan berarti

beliau mengharamkan jual beli atau harta dunia, dia hannya tidak ingin ibadahnya terlewatkan

dan tidak terlalaikan dari mengingat Allah.

Dalam hal ini ia pernah bercerita tentang kelalaiannya mengingat Allah karna sibuk

berdagang, "....Mulai hari ini aku tidak ingin mempunyai sebuah toko, dimana aku menjual dan

meraup untung 300 dinar perhari tetapi aku tertinggal solat jama'ah"

Masyallah..
Kisah Zuhudnya Abu Darda

Abu Darda bukan hanya meninggalkan perniagaan, namun ia juga meninggalkan barang-barang

yang ada di rumahnya, salah satu kisah zuhud Abu Darda adalah saat dia menerima tamu, lalu

tamu itu bermalam di rumahnya, lalu Abu Darda memberinya selimut yang tipis, sehingga udara

dingin masuk ke dalam tubuhnya.

Salah satu dari tamu tersebut membicarakan selimut yang diberikan Abu Darda dan hendak

berbicara dengannya tentang selimut, namun sahabat yang lain mengatakan 'Jangan berbicara

biar kami lihat dulu'.

Setelah itu mereka bangun dan melihat Abu Darda sedang tidur menggunakan selimut yang tipis

juga, bahkan prabotan di dalam rumahnya tidak ada.

Maka esok harinya mereka bertanya kepada Abu Darda' "Kami melihatmu bermalam

sebagaimana kami bermalam, dan dimana perabot rumahmu??"

Abu Darda menjawab : "Jika ada sisa perabot di dalam rumahku niscaya akan aku berikan

kepada kalian"

Masyallah, begitulah Kisah Abu Darda dalam masalah zuhud dan ketaatan, sedikit di antara kita

yang mempunyai keberanian seperti beliau. Dari orang yang kaya sampai menjadi orang yang

serba kecukupan, dia merasa cukup dengan satu suapan yang menegakan tulang sulbinya dan

pakaian yang kasar untuk menutupi auratnya.

Sebenarnya masih ada kisah zuhud Abu Darda yang lainnya, seperti kisah Abu Darda dan

Salman Al-Farisi dsb. Insyallah akan kami tulis dilain waktu..

Kisah Abu Darda di Masa Umar bin Khattab

Suatu ketika , Umar bin Khattab ingin menyerahkan tugas kepada Abu Darda’ di Syam, namun

Abu Darda’ menolaknya, Umar pun terus memaksanya, lalu Abu Darda’ berkata, "Jika engkau

tetap ingin aku pergi kesana untuk mengajari mereka kitab Allah dan sunnah Nabi dan aku diberi

tugas menjadi imam shalat untuk mereka maka aku akan berangkat." Umar pun menerima usulan

Abu Darda sehingga berangkatlah Abu Darda ke Syam.

Saat di Syam, Abu Darda’ berjalan-jalan keliling di tengah masyarakat, mengajarkan kitab Allah

kepada mereka, berkeliling mendatangi majlis-majlis ilmu, menjawab pertanyaan masyarakat

dan sebagainya.

Kebijakan Abu Darda dalam Menyelesaikan Masalah

Mereka berkata, "Seorang laki-laki terjerumus dalam dosa besar."

"Tentu" Jawab mereka.

Abu Darda melewati sekumpulan orang yang bertindak aniaya terhadap temannya, mereka

memukulinya dan mencacinya, maka Abu Darda’ langsung mendatangi mereka dan

bertanya,"Ada apa?"

Abu Darda berkata, "Bagaimana jika ia terjerumus kedalam sumur, apa kalian akan

mengeluarkannya?"

Maka Abu Darda melanjutkan, "Jangan mencacinya, jangan memukulinya, semestinya kalian

menasehatinya dan meluruskannya, berterima kasihlah kepada Allah yang telah membuat kalian

tidak melakukan apa yang dia lakukan."

Mereka berkata, "Mengapa kita tidak membencinya?"

Kisah Wafatnya Abu Darda

Abu Darda’ menjawab, "Dosa-dosaku."
Mereka bertanya, "Apa yang Engkau inginkan?" "Ampunan Rabbku." Jawab Abu Darda’

"Kami hanya membenci perbuatannya, jika dia meninggalkan dosanya maka ia

saudaraku." Jawab Abu Darda’. Laki-laki itu langsung menangis dan bertaubat saat itu juga.

Abu Darda meninggal di saat ia sedang sakit, pada saat itu kawan-kawannya datang

menjenguknya, mereka berkata, "Apa keluhanmu?"

Setelah berkata-kata seperti itu, maka wafatlah Abu Darda’. Allah telah menyiapkan untuk Abu

Darda’ sebuah kubah ditengah kebun hijau yang luas dan indah karena dia dulu menepis dunia

dengan kedua telapak tangan dan dadanya.

Beliau wafat di kota Damaskus pada Masa Utsman bin Affan, ada juga yang mengatakan 23 atau 24 H.

Demikian Kisah Abu Darda Sahabat Nabi yang Zuhud, semoga bisa bermanfaat bagi kita semua, jangan lupa dibaca Tag Hafalan dan RPA nya di bawah ini..

Referensi:

Mereka Adalah Para Sahabat Abdurrahman Rafat Basya dalam Kitab aslinya Shuwaru Min Hayatis Shabah BAB: Abu Darda : 162

Situs Almanhaj.or.id Ditulis : Ustadzah Ummu

Tag Hafalan

  1. Nama Asli Abu Darda Uwaimir bin Amir dan ibunya Mahabbah binti Amir, dia dari suku Khazraj

  2. Sebelum menerima Islam dia adalah orang yang kaya bahkan dia bisa mendapat untung perhari 300 dirham lebih.

  3. Abu Darda masuk Islam setelah Abdullah bin Rawahah menghancurkan berhalanya

  1. Abu Darda diutus ke Damaskus pada masa Khalifah Umar dan dijadikan Imam serta juru dakwah dan Imam di sana

  2. Abu Darda meninggal pada masa Utsman bin Affan, ada yang mengatakan 23 atau 24 H

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin