Kisah Adi bin Hatim Ath-Tha’i, dia adalah seorang raja dari Thai, Ayahnya bernama Hatim
seorang pembesar di kabilah Tha’i, yang kemudian Adi lah yang menggantikan
kepemimipinannya setelah sang ayah wafat.
Sebelum Adi bin Hatim masuk Islam, yakni ketika masih jahiliyyah, Adi bin Hatim beragama
Nasrani dan dia diangkat kaumnya menjadi pemimpin pada kabilah Tha’i. Namun, saat cahaya
Islam mulai bersinar, dan orang-orang arab dari kabilah demi kabilah mulai masuk Islam dan
tunduk kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, Adi bin Hatim merasa dakwah dan
kepemimpinan Rasulullah akan menyingkirkan kedudukannya sebagai pemimpin atau raja.
Sehingga dia memusuhi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Kala itu diantara orang-orang
Arab tidak seorangpun yang paling dibenci Adi bin Hatim kecuali Rasulullah. Adi bin Hatim
tahun berlalu, Allah melapangkan dada Adi bin Hatim sehingga dia mau menerima Islam dan
beriman kepada Allah, seperti apa kisah masuk Islamnya Adi bin Hatim?
terus memusuhi Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam hingga dua tahun lamanya, setelah dua
Kisah Adi bin Hatim Masuk Islam
Pada pagi hari, ada seorang hamba sahaya milik Adi bin Hatim datang, dan menemuai sang raja,
ia pun berkata, "Tuanku, apa yang kau lakukan jika pasukan Muhammad datang ke negeri ini?."
Adi bin Hatim bertanya, "Mengapa, celaka kau!"
Hamba sahaya menjawab, "Aku melihat panji-panji perang telah datang tidak jauh dari negeri
ini, aku bertanya kepada orang-orang di sekitar, dan mereka menjawab bahwa mereka adalah
pasukan Muhammad."
Setelah mendengar berita yang dibawakan hamba sahayanya, Adi bin Hatim berniat kabur dari
negerinya. Maka Adi bin Hatim berkata, "Siapkan unta dan bawa ia kepadaku."
Adi bin Hatim langsung mengajak keluarganya untuk meninggalkan Tha’i dan pergi ke Syam
untuk berkumpul dengan orang-orang yang seagama dengannya, namun karena Adi bin Hatim
tergesa-gesa ada saudarinya yang masih tertinggal di Tha’i. Maka Adi bin Hatim pun sempat
bingung, akan tetapi tidak ada pilihan lagi karena ia tak mungkin kembali lagi ke Tha’i.
Akhirnya, dia pun meninggalkannya dan melanjutkan perjalanannya ke Syam.
Setibanya di Syam, Adi bin Hatim tinggal bersama orang-orang Nasrani. Sementara saudarinya
mengalami sesuatu yang telah di duga Adi bin Hatim sebelumnya (Adi bin Hatim sebelumnya
menduga bahwa saudarinya ditawan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam).
Ketika kaum muslimin menyerang Tha’i, mereka menawan saudarinya Adi bin Hatim lalu
digiring ke Yatsrib bersama para tawanan yang lain dan di masukkan ke dalam rumah dekat
pintu masjid.
Tatkala Rasulullah berkeliling melewati para tawanan, saudara perempuan Adi bin Hatim
melangkah mendekati Rasulullah dan berkata, "Wahai Rasulullah, bapakku telah tiada,
penolongku telah pergi. Bebaskanlah aku semoga Allah melimpahkan nikmatNya kepadamu."
Rasulullah bertanya, "Siapa penolongmu?" "Adi bin Hatim." Jawabnya.
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bersabda, "Orang yang berlari dari Allah dan RasulNya?"
Lalu beliau langsung berlalu meninggalkannya. Esoknya lagi, saudara perempuan Adi bin Hatim
mengulang permintaannya lagi supaya dibebaskan. Namun beliau Shalallahu alaihi wassalam
menjawab seperti sebelumnya. Beliau Shalallahu alaihi wassalam menolak pernintaannya.
Hingga pada hari ketiga, saudara Adi bin Hatim ini sudah putus asa, sehingga ketika Rasulullah
Shalallahu alaihi wassalam melewatinya, ia hanya diam saja. Tetapi Ali bin Abi Thalib yang
berada di belakang perempuan itu memberi isyarat agar menemui Rasulullah Shalallahu alaihi
wassalam ketiga kalinya.
Maka saudari Adi bin Hatim menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan berkata seperti
sebelumnya. Akhirnya Rasulullah pun membebaskannya. Setelah membebaskannya, saudari Adi
bin Hatim berkata:
"Aku ingin menyusul keluargaku di Syam."
Rasulullah menjawab, "Jangan terburu-buru pergi. sampai engkau menemukan orang yang bisa
engkau percaya dari kaummu yang bisa mengantarkanmu ke Syam, jika engkau sudah
menemukan orang itu maka katakan kepadaku."
Akhirnya saudari Adi bin Hatim menunggu dan tinggal beberapa hari di Madinah, hingga
datanglah rombongan musafir dan di antara mereka terdapat orang yang dipercaya, lalu saudari
Adi bin Hatim menemui Rasulullah dan berkata, "Ya Rasulullah, beberapa orang dari kaumku
telah datang, mereka bisa dipercaya dan mampu membawaku sampai ke Syam."
Rasulullah pun mengizinkan nya serta membawakan pakaian dan unta sebagai bekal perjalanan
untuk saudari Adi bin Hatim. Di saat Adi bin Hatim menunggu-nunggu kabar dan kedatangan
saudarinya yang ditawan, terlihat dari kejauhan seorang wanita yang sedang mengendarai unta,
menuju kearah Adi bin Hatim, ternyata ia adalah saudari Adi bin Hatim.
Adi bin Hatim langsung tercengang melihatnya, seakan tak percaya bahwa yang datang adalah
saudarinya yang selama ini ia khawatirkan, ia juga merasa kagum terhadap kebaikan Rasulullah
Shalallahu alaihi wassalam terhadap para tawanan, padahal selama ini Adi bin Hatim sangat
memusuhinya.
Saudari Adi berkata, "Sungguh saudara pemutus silaturrahmi dan dzolim, Kau pergi membawa
anak-anakmu dan keluargamu namun meninggalkan orangtua mu dan saudari mu."
Adi bin Hatim berkata, "Wahai saudariku berkata lah yang baik." Maka Adi bin Hatim minta
maaf kepada saudarinya hingga ia mau memaafkannya.
Adi bin Hatim berkata, "Wahai saudari ku sebagai wanita yang tegas dan cerdas apa pendapatmu
tentang Muhammad?"
Saudarinya menjawab, "sungguh aku menyarankan kepadamu untuk menemuinya, jika dia
seorang Nabi maka orang yang beriman kepadanya dengan segera meraih keutamaannya, namun
jika dia hanya seorang raja maka engkau tetap tidak akan terhina, karena engkau adalah engkau."
Mendengar kata-kata saudarinya, Adi bin Hatim segera menyiapkan perbekalan dan pergi ke
Madinah tanpa jaminan keamanan dan surat perjanjian. Perlu diketahui, bahwa Rasulullah
Shalallahu alaihi wassalam pernah bersabda terkait Adi bin Hatim ini, "Sesungguhnya aku sangat
berharap Allah meletakkan tangan Adi di atas tanganku." Sabda Nabi tersebut benar-benar telah
dikabulkan oleh Allah.
Sesampainya Adi di Madinah, beliau langsung menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam
yang sedang berada di Masjid. Adi bin Hatim mengucap salam.
Rasulullah bertanya, "Siapa?" "Adi bin Hatim." Jawabnya
Maka Rasulullah berdiri dan datang kepada Adi bin Hatim dan menggandengnya berjalan
kerumah beliau. Ketika beliau berjalan dengan Adi, beliau bertemu dengan seorang wanita tua
bersama anak kecil yang sedang kesusahan, mereka mengadu kepada Rasulullah, lalu Rasulullah
memberikan segala kebutuhan wanita tersebut. Maka Adi bin Hatim berkata dalam dirinya,
"Sungguh dia bukan seorang Raja."
Kemudian beliau menggandeng Adi lagi, hingga sampai dirumah Nabi. Lalu Rasulullah
Shalallahu alaihi wassalam menyiapkan satu buah tikar yang empuk, lalu mempersilakan Adi bin
Hatim untuk duduk, namun Adi bin Hatim menolaknya, namun Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tetap memintanya untuk duduk diatas tikar itu sedangkan Rasulullah duduk diatas
tanah. Hal itu dikarnakan di rumah beliau hanya ada satu tikar.
Maka setelah melihat kejadian yang kedua ini, Adi bin Hatim berkata dalam dirinya, "Demi
Allah, jika dia seorang raja maka dia tidak akan melakukan hal ini."
Rasulullah memandangku dan berkata, "Wahai Adi bin Hatim bukankah kamu ini seorang rukusi
yang beragama dengan agama di antara Nasrani dan Shabi’ah?"
Adi menjawab, "Benar."
Rasulullah bersabda, "Bukankah kamu memberlakukan ketentuan seperempat harta rampasan
perang kaummu untuk dirimu kemudian kamu memakan harta yang tidak halal dalam
agamamu?" "Benar" Jawab Adi.
Rasulullah kembali bersabda, "Wahai Adi, mungkin kamu menolak untuk masuk agama ini
karena,
1.kamu melihat kemiskinan dan kemelaratan kaum muslimin. Demi Allah, sudah dekat masanya
dimana harta akan melimpah di kalangan mereka sehingga tidak ada lagi yang berkenan
menerimanya.
2.karena kamu melihat jumlah kaum muslimin yang sedikit dan jumlah musuh mereka yang
banyak, demi Allah telah dekat saatnya dimana kamu akan mendengar seorang wanita
Qadisiyah mengendarai untanya sendiri ke Ka’bah tanpa rasa takut kepada siapapun kecuali
Allah.
Adi bin Hatim berkata, "Harta kekayaan Kisra bin Hurmuz?" Nabi menjawab, "Ya, harta kekayaan Kisra bin Hurmuz."
3.karena kamu melihat bahwa kerajaan dan kekuasaan hanya dipegang oleh selain muslimin,
demi Allah tidak lama lagi kamu akan mendengar bahwa istana putih di bumi Babil (daerah
Irak) akan takluk kepada mereka dan bahwa harta kekayaan Kisra bin Hurmuz berpindah ke
tangan mereka."
Setelah mendengar semua sabda Rasulullah, Adi bin Hatim masuk Islam dan langsung berbaiat
kepada Rasulullah.
Adi bin Hatim diberi umur yang panjang sehingga ia telah membuktikan kebenaran sabda
Rasulullah. Adi bin Hatim melihat sendiri ada seorang wanita Qadisiyah yang mengendarai unta
sendirian ke Ka’bah tanpa ada rasa takut kecuali kepada Allah, dan ia juga telah membuktikan
sendiri bahwan Adi bin Hatim berada di barisan depan dalam pasukan muslimin yang melawan
Kisra dan mendapat harta rampasan.
Namun yang ketiga Adi bin Hatim belum melihatnya, akan tetapi ia bersumpah yang ketiga pasti
akan terjadi.
Benar, sabda Rasulullah yang ketiga terjadi pada saat kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz, yakni
harta kekayaan mengalir di tangan kaum muslimin sehingga Umar memanggil masyarakat untuk
menerima zakat, namun mereka menolaknya.
Penulis : Abdullah
Referensi: Shuwaru min hayati shahabah Dr. Abdurrahman Ra’fat Basya
Tag Hafalan
-
Sebelum masuk islam, Adi bin Hatim adalah seorang pembesar i kabilah Tha’i
-
Adi bin Hatim beragama Nasrani ketika masih jahiliyyah
-
Adi bin Hatim kabur ke Syam saat pasukan Muslimin datang ke negerinya, Tha’i dan
meninggalkan saudarinya di Tha’i, sehingga ia ditawan oleh kaum muslimin.
-
Adi bin Hatim masuk Islam setelah pembebasan saudarinya dari tawanan muslimin

Comments
Post a Comment