Kisah Amru bin Al-Ash

 


Kisah Amru bin Al-Ash Seorang Pahlawan Islam yang Beriman Sebelum Masuk Islam

Kisah Amru bin Al-Ash yang penuh dengan kepahlawanan. Perjalanan hidup penuh hikmah

dan pelajaran. Sangat mudah untuk dijadikan bahan berkisah kepada anak-anak. Dapat

menumbuhkan keimanan pendidik maupun murid. Mari siamk bersama-sama cerita sahabat nabi

yang satu ini.

Amru bin Al-Ash lahir setengah abad sebelum hijrah, ayahnya bernama Al-Ash bin Wail, salah

seorang pemimpin bangsa Arab di zaman jahiliyyah, ayah Amru adalah orang yang terpandang

dan bernasab tinggi. Ibunya seorang wanita hamba sahaya( budak ) bekas tawanan yang

kemudian dinikahi oleh Al-Ash bin Wail dan menghasilkan putra yang bernama Amru bin Al-

Ash.

Kedudukan Amru pada Masa Jahiliyah

Pada masa jahiliyah, Amru menjabat sebagai gubernur dan menjadi orang yang terpandang

sebagaimana ayahnya. Meskipun Amru seorang petinggi, tidak sedikit kaumnya yang mengejek

Amru terhadap kedudukan ibunya. karna ibunya mantas seorang hamba sahaya atau budak.

Pernah suatu ketika, saat Amru menaiki mimbar dan berpidato dihadapan kaumnya, di sana ada

salah satu mereka yang bertanya tentang siapa ibunya, namun mereka bukan bermaksud bertanya

karna belum tahu, tapi mereka berniat mengejek. Bahkan mereka akan memberi uang jika Amru

mau menjawab. Lalu mendengar pertanyaa itu, Amru bin Al Ash langsung berkata sambil

menahan amarah dan penuh kesabaran:

"Ibuku adalah An-Nabighah binti Abdullah, lalu tertawan oleh orang-orang Arab dan dijual di

pasar Ukazh, kemudian dibeli oleh Abdullah bin Juda’an setelah itu diberikan kepada ayahku,

maka dia melahirkan keturunan, jika ada yang hatinya dirobek oleh rasa hasad telah

membayarmu untuk menanyakan hal ini maka ambillah uang itu !!!." Begitulah kisah hidupnya

bersama teman-temannya di masa jahiliyah.

Kisah Amru bin Al-Ash Sebelum Masuk Islam

Pada saat itu orang-orang Islam sudah banyak yang mendapatkan siksaan dari orang-orang

Quraisy. Sehingga kaum muslimin hijrah ke Habasyah untuk menyelamatkan agama mereka.

Namun orang Quraisy tidaklah jera dan putus asa, mereka pun berniat untuk mengambil kembali

kaum muslimin dari Habasyah, dan menyiksa mereka kembali.

Akhirnya orang-orang kafir Quraisy memilih Amru bin Al-Ash untuk dikirim ke Raja Najasyi,

karena Amru bin Al Ash dan raja Najasyi mempunyai hubungan dekat atau bisa dikatakan

sahabat dekat, setelah Amru diperintah untuk mengambil kaum muslimin, Amru bin Al Ash

datang kepada Najasyi dengan membawa hadiah.

Kisah Amru Bertemu dengan Raja Najasyi

Tibalah Amru bin Al Ash di Habasyah dan bertemu dengan Raja Najasyi, Amru pun memberi

salam dan hormat kepadanya lalu berkata: "Ada beberapa orang dari kaum kami yang kafir

kepada leluhur mereka, mereka membuat-buat agama baru pada diri mereka. Orang-orang

Quraisy mengutusku untuk meminta izin kepadamu agar mengembalikan mereka kepada kaum

mereka, mengembalikan mereka kedalam agama mereka dan ajaran leluhur mereka."

Dengan penuh kebijaksanaan, raja Najasyi tidak langsung menyetujui permintaan Amru bin Al

Ash meskipun ia adalah temannya. Akan tetapi raja memanggil sebagian orang sahabat untuk

bertanya tentang agama yang mereka bawa, tentang Nabi mereka dan Tuhan mereka.

Setelah sahabat dan Najasyi bercakap-cakap dengan salah satu sahabat nabi yang bernama Ja’far

bin Abi Thalib, namun apa yang terjadi?? justru membuat hati Raja Najasyi dipenuhi ketenangan

serta membuatnya memahami aqidah yang mereka bawa dan mengimaninya. Maka dia menolak

dengan tegas permintaan Amru bin Al-Ash:

"Wahai Amru bagaimana perkara Muhammad bisa samar bagimu padahal aku mengenalmu

sebagai orang yang berakal rajih dan berpandangan jauh? Demi Allah dia adalah utusan Allah

kepada kalian secara khusus dan kepada umat manusia secara umum."

Amru bin Al Ash menjawab, "Apakah engkau berkata demikian wahai Raja?"

Najasyi menjawab, "Ya Demi Allah, ikutilah aku wahai Amru, berimanlah kepada Muhammad

dan kepada kebenaran yang dia bawa."

Dengan kata-kata Raja tersebut, hati Amru bin Ash mulai tergoyah dan mulai memikirkan

kebenaran yang dibawa Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam.

Karena inilah Nabi bersabda tentangnya:

Kisah Keislaman Amru bin Al Ash Bersamaan dengan Khalid bin Walid

"Amru bin Al Ash masuk Islam setelah pemikiran yang panjang dan tadabbur yang besar, orang-

orang masuk Islam sementara Amru bin Al Ash beriman (mengimani namun belum mengucap

Syahadat)."

Setelah berpikir panjang dengan hati yang penuh dengan keimanan, datanglah cahaya Islam

menyelimuti diri Amru bin Al-Ash. Terjadi pada tahun 8 Hijriyah, Amru bin Al Ash pergi ke

Madinah, dalam tengah perjalanan ternyata dia bertemu dengan Khalid bin Walid dan Utsman

bin Thalhah yang bertujuan sama yaitu bertemu dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam

untuk masuk Islam namun masing-masing merekat tidak tahu.

Sesampainya Amru didepan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, ternyata ada Khalid

bin Walid dan Utsman bin Thalhah yang juga bertemu nabi lalu mereka berdua menjabat tangan

Rasulullah untuk berbaiat, namun saat Rasulullah mengulurkan tangannya kepada Amru bin Al

Ash, dia malah menahan tangannya.

Nabi merasa heran dan bertanya: Ada apa denganmu wahai Amru bin Al Ash? Amru bin Al Ash

menjawab: Aku akan berbaiat kepadamu dengan syarat dosa masa laluku diampuni.

Lalu Nabi bersabda: Sesungguhnya Islam dan hijrah menghapus apa yang dilakukan seseorang

sebelumnya.

Baru setelah itu Amru bin Al Ash mau berbaiat dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi

wassalam.

Maka kejadian ini membekas di hati Amru, sampai-sampai Amru bin Al-Ash berkata :

"Demi Allah, kedua mataku tidak pernah berani melihat kepada Nabi dan penglihatanku tidak

pernah menikmati wajah beliau sampai beliau wafat."

Kisah Amru bin Al-Ash pada Masa Islam

Kisah Amru bin Al Ash Pada Masa Kekhalifahan Abu Bakar
Peran Amru bin Al-Ash pada masa ini sangat besar, salah satunya dia menunjukkan keberanian

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sangat mengistimewakan Amru bin Al Ash, sehingga

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam mengangkatnya menjadi panglima dalam perang Dzatus

Salasil, walaupun didalam pasukan tersebut ada sahabat angkatan pertama (As-Sabiqunal

Awwalun).

dan kewibawaannya melawan orang-orang murtad. Pada saat itu, ada Bani Amir yang dipimpin

oleh Qurrah bin Hubairah yang mereka semua sudah murtad dan keluar dari Islam.

Dia berkata kepada Amru:

"Wahai Amru, sesungguhnya orang-orang Arab tidak pernah rela menerima pajak ( zakat ) yang

kalian tetapkan atas mereka, jika kalian menghapusnya dari kami maka kami akan tunduk kepada

kalian dan mendengar, tetapi jika kalian tidak menghapusnya dari kami, maka kami tidak akan

bersatu di bawah panji-panji kalian setelah hari ini."

Mendengar hal itu Amru bin Al Ash berteriak didepan Qurrah: "Celaka kamu wahai Qurrah,

apakah kamu kafir? Apakah kamu berani menakut-nakuti kami dengan murtadnya bangsa Arab?

Demi Allah aku akan membawa pasukan berkudaku sehingga ia menginjak kamar ibumu!"

Subhanallah, keberanian yang sangat besar.

Kisah Amru bin Al-Ash pada Masa Kekhalifahan Umar bin Khattab

Zaman berganti zaman, kekhalifahan Abu Bakar Ash-Shiddiq berpindah tangan kepada Umar

bin Khattab Radiyallahuanhuma, di masa ini, Umar mempercayakan segalanya kepada Amru bin

Al-Ash karena pengalamannya, demi Islam dan kaum muslimin. Dari kepercayaan inilah, Allah

membuka pesisir palestina, wilayah demi wilayah, mengalahkan pasukan Romawi satu persatu

dan melangkah untuk mengepung Baitul Maqdis melalui kedua tangannya.

Subhanallah sungguh besar anugrah yang Allah berikan kepada Amru bin Al-Ash. Dengan

keberaniannya ini membuat orang-orang Romawi menyerah dan melarikan diri, lalu membiarkan

kotanya dihuni oleh kaum Muslimin. Maka Amru bin Al Ash berkata: "Kami telah melempar

Arthabun Romawi dengan Arthabun Arab."

Penyerahan kota ditanda tangani oleh khalifah Umar bin Khattab.

Kisah Amru bin Al-Ash dalam Penaklukan Mesir

Akhirnya tahun 15 H kota Baitul Maqdis pindah ketangan kaum Muslimin dan dipimpin oleh

Amru bin Al-Ash seorang pahlawan Islam. Setelah penaklukan ini Amru bin Al Ash pergi ke

Mesir dan menggabungkan mutiara Islam sehingga dia bisa membuka pintu Afrika dan Spanyol

untuk orang-orang Muslim. Semua itu terjadi dalam waktu setengah abad.

Amru bin Al Ash adalah orang yang cerdik, ahli strategi dan pemikir ulung. Ketika dia meminta

izin kepada Umar untuk pergi ke Mesir, maka Utsman bin Affan berkata: "Wahai Amirul

Mukminin, sesungguhnya Amru adalah laki-laki yang pemberani, dia menyukai kepemimpinan,

aku takut dia berangkat ke Mesir tanpa pasukan dan senjata yang memadai sehingga dia akan

membinasakan kaum muslimin."

Umar bin Khattab menyesal telah mengizinkan Amru bin Al Ash pergi ke Mesir, lalu Umar

mengirim utusan yang membawa surat darinya. Maka tanpa menunggu lama, utusan tersebut

langsung menyusul Amru bin Al Ash, akan tetapi Amru bin Al Ash dan pasukannya sudah

memasuki Mesir.

Setelah utusan tersebut bertemu dengan Amru, mereka menyerahkan surat dari Umar bin Al-

Khattab yang isinya :

"Jika suratku ini sampai ketanganmu sementara kamu belum masuk ke bumi Mesir maka

pulanglah, namun jika kamu sudah masuk ke Mesir maka teruskanlah langkahmu."

Amru berkata kepada pasukannya: "Bukankah kalian mengetahui bahwa kita sudah di bumi

Mesir?"

Mereka menjawab: "Ya benar."
Amru bin Al Ash berkata: "Kita berangkat dengan taufik dan berkah dari Allah Ta’ala."

Tatkala kaum Muslimin mengepung benteng Romawi di Mesir, pemuka Romawi mengirim

utusan kepada kaum Muslimin untuk mengatakan bahwa pemuka Romawi ingin berbincang-

bincang dengan salah satu orang Muslim, maka Amru bin Al Ash sendirilah yang menemuinya

dan terjadilah dialog yang menakjubkan diantara mereka.

Saat itu pemuka Romawi berniat untuk berkhianat kepada Amru dengan mengatakan akan

memberi hadiah lalu nanti membunuhnya, Amru pun merasa curiga dengan gerak-gerik penjaga

benteng tersebut. Amru bin Al Ash berkata:

"Wahai pemuka Romawi, hadiah yang engkau berikan kepadaku tidak cukup bagi sepupu-

sepupuku semuanya, maka izinkanlah aku membawa sepuluh orang dari mereka agar bisa

mendapatkan hadiah sepertiku." Lalu Amru pergi dan tidak kembali lagi.

Akhirnya Mesir ditaklukan Allah melalui tangan Amru bin Al Ash, kemudian Amru bertemu

dengan pemuka Romawi dan Pemuka Ramawi berkata, "Jadi kamu?" Amru menjawab: "Ya,

dengan pengkhianatanmu yang gagal."

Itulah kehebatan dan kecerdikan Amru bin Al Ash, sehingga dia bisa menaklukkan Mesir dengan

segala kemampuannya.

Kisah Wafatnya Amru bin Al-Ash

Dia mengulang-ulang terus hingga wafat. Penulis Mujahid Pendidikan Abu Zaid

Dia wafat saat sedang sakit, tatkala dia merasakan ajalnya semakin dekat, dia berkata: "Ya Allah

aku bukan orang kuat sehingga aku bisa menang, aku tidak bebas sehingga aku bisa beralasan,

aku tidak menyombongkan diri akan tetapi hanya meminta ampun, maka ampunilah ya Allah"

Referensi: Shuwaru min hayatis Shahabah Dr.Abdurrahman Basya

Tag Hafalan

  1. Amru bin Al-Ash seorang Gubernur di masa jahiliyyahnya.

  2. Amru bin Ash beriman sebelum masuk Islam (beriman namun belum mengucapkan

    syahadat)

  3. Di masa jahiliyyah Amru bin Al-Ash adalah utusan orang Quraisy kepada Raja Najasyi

  1. Raja Najasyi dan Amru bin Al-Ash ada hubungan sahabat.

  2. Ibu Amru bin Al-Ash bernama Nabighah binti Abdullah (bekas budak)

  3. Amru bin Al-Ash menjadi panglima perang Dzatus salasil

  4. Amru bin Al-Ash menaklukkan Palestina, Mesir, Afrika, Spanyol dan wilayah lainnya

  5. Amru bin Al-Ash berhasil mengalahkan pasukan Romawi di Baitul Maqdis

  6. Amru bin Al-Ash seorang sahabat yang cerdik, ahli strategi dan pemikir ulung.

  7. Amru bin Al-Ash masuk Islam bersamaan dengan Khalid bin Walid dan Utsman bin

    Thalhah

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin