Kisah Dahsyat Perang Hunain
Kisah Dahsyat Perang Hunain Lengkap
Fathul Makkah
Kisah perang Hunain- Setelah terjadi peristiwa
, dimana Rasulullah
shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya berhasil menaklukkan kota Makkah
dan menghancurkan 360 berhala yang ada di dalam dan sekitar Ka'bah. Banyak
penduduk kota Makkah yang masuk Islam. Ya, keberhasilan tersebut merupakan
kemenangan yang sangat besar bagi umat Islam. Nabi Muhammad shalallahu alaihi
wassalam telah berhasil menyebarkan Islam dengan hikmah, sehingga para penduduk
Madinah dan Makkah beriman kepada Allah dan RasulNya.
Namun ada beberapa suku Makkah yang marah akan keberhasilan kaum muslimin.
Mereka tidak terima dan ingin menyerang para sahabat nabi dengan kekuatan penuh.
Dari sinilah akan terjadi perang besar antara kaum muslimin dengan suku Makkah yang
masih kafir. Perang ini disebut, perang Hunain. Bagaimana kisahnya? Apa penyebab
terjadi perang Hunain?
Kisah Perang Hunain Antara 2 Suku Hawazin dan Tsaqif Melawan Pasukan Nabi
Tidak jauh dari kota Makkah, terdapat perkampungan dua suku besar, yaitu suku
Hawazin dan suku Tsaqif. Mereka mendengar bahwa kota Makkah telah berhasil
dikuasai Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Kondisi itu membuat mereka khawatir
jika nabi dan para sahabatnya akan menyerang perkampungan mereka. Tokoh mereka
yang bernama Malik bin Auf an Nashri pun mengumpulkan seluruh penduduk kampung
mereka. Malik menyampaikan kekhawatirannya dan mengajak setiap penduduk untuk
mengumpulkan pasukan demi menyerang kaum muslimin, sebelum mereka sendiri
diserang oleh nabi.
Rencana yang Aneh dari Pasukan Musuh, Malik bin Auf
Seorang pemimpin tentu sangat wajar jika mengumpulkan pasukan yang kuat-kuat
untuk berperang melawan musuh. Tapi kali ini sangat aneh. Mengapa? Karena Malik bin
Auf tidak hanya mengajak kaum laki-laki yang kuat-kuat untuk menyerang kota Makkah.
Tetapi ia mengajak seluruh penduduknya tanpa memandang usia, jenis kelamin dan
keadaan. Entah itu laki laki, wanita, tua, muda, dan anak anak semuanya diajak untuk
berperang melawan nabi.
Bukan hanya itu saja, namun ada lagi yang lebih aneh. Yaitu, Malik bin Auf menyuruh
suku Hawazin dan Tsaqif untuk membawa seluruh kekayaan mereka seperti binatang
ternak, unta, kambing, dan kuda. Bahkan emas dan perak yang mereka miliki pun harus
dibawa dalam perang ini. Sungguh aneh! Karena sebelumnya tidak pernah ada
pemimpin dari pasukan perang yang mengajak seluruh keluarga, istri dan anak anaknya
untuk berperang, ditambah lagi dengan membawa seluruh kekayaan.
Pasukan Besar dari Suku Hawazin dan Tsaqif di Perang Hunain
Setelah semuanya sudah siap, Malik bin Auf pun berhasil mengumpulkan seluruh
pasukan berjumlah 20.000 orang. Setelah itu Malik dengan seluruh pasukannya pergi
meninggalkan perkampungannya. Mereka terus berjalan menuju daerah Hunain. Ketika
mereka sampai di daerah Authas, mereka berhenti dan beristirahat. Authas adalah
suatu lembah di Hawazin dekat Hunain, tetapi tidak masuk wilayah Hunain. Sedangkan
Hunain adalah suatu lembah yang berdekatan dengan Dzul Majas. Jarak tempat
tersebut dengan Makkah adalah sepuluh mil lebih jika ditempuh dari Arafah.
Di tempat peristirahatannya (Authas) Malik bin Auf bertemu dengan orang tua buta
yang bernama Duraid bin Shummah. Dahulu, Duraid adalah seorang komandan perang
yang pemberani, namun sekarang ia sudah tua.
Duraid bertanya, "Lembah apa ini?"
Orang-orang menjawab, "Authas"
Duraid berkata, "Ini adalah tempat yang paling tepat untuk kuda, bukan tempat yang
tinggi dan berbatuan, tidak pula tempat yang datar dan lunak tanahnya. Saya
mendengar suara raungan unta, kambing dan juga anak anak kecil yang menangis.
Kenapa kamu membawa mereka semua dalam perang ini?"
Malik berkata, "Saya sengaja membawa keluarga dan harta setiap tentara, agar dia lebih
semangat dalam berperang."
Duraid berkata, "Jika mereka kalah, mereka pulang tidak akan membawa apapun, yang
ikut berperang hanya lelaki dengan membawa pedang saja."
Kemudian Duraid menanyakan suku-suku yang bergabung dalam pasukan dan
pemimpin-pemimpinnya. Lalu dia berkata, "Wahai Malik, tidak selayaknya engkau
membawa penduduk Hawazin ini ke tengah pasukan. Kembalikanlah mereka ke tempat
tinggalnya supaya aman terlindungi. Setelah itu hadapilah orang-orang muslim dengan
pasukan intinya. Jika engkau menang maka apa yang ada di belakangmu tetap aman.
Dan jika engkau kalah, berarti engkau masih bisa menolong keluargamu dan hartamu"
Duraid merupakan seorang yang berpengalaman dalam berperang, maka wajar jika dia
memberikan saran kepada Malik untuk tidak membawa harta benda, wanita dan anak-
anak. Sebab perang itu hanya diikuti oleh kaum lelaki yang memiliki pedang. Namun
Malik dengan keras menolaknya dan tidak mendengarkan saran dari Duraid. Malik
mengira bahwa Duraid tidak bisa berpikir baik karena sudah tua,
"Demi Allah, aku tidak akan melaksanakan saranmu, karena engkau sudah tua renta dan
pikiranmu pun sudah tumpul"
Akhirnya, pasukan gabungan dua suku tersebut meninggalkan Duraid dan melanjutkan
perjalanannya.
Kabar Pasukan Malik bin Auf terdengar Oleh Nabi dan Mengutus Mata-Mata
Tidak lama kemudian, setelah mereka merencanakan untuk menyerang nabi, beberapa
orang dari sahabat telah memberitahu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam akan
adanya serangan itu. Beliau pun langsung mengutus Abu Hadrad al-Aslami untuk
melihat kebenaran berita tersebut. Dia diperintah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam
untuk melihat pasukan yang akan menyerang kota Makkah. Maka Abu Hadrad pun
menyusup di tengah-tengah pasukan musuh dan mengetahui apa yang seharusnya ia
ketahui. Setelah beberapa hari dia kembali lagi dan menceritakan rencana Hawazin dan
Tsaqif kepada nabi.
Pasukan Rasulullah Meninggalkan Kota Makkah
Setelah mendengar cerita Abu Hadrad, tepatnya pada hari Sabtu tanggal 6 Syawwal 8 H.
Rasulullah langsung menyiapkan pasukan perang sebanyak 12.000 orang. Yang terdiri
dari 10.000 pasukan Muhajirin dan Anshar serta 2000 orang pasukan lainnya dari
penduduk Makkah yang baru masuk Islam.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menunjuk Itab bin Usaid untuk mengurus Makkah
selama beliau pergi. Selain itu, nabi bukan saja menyiapkan pasukan, tapi beliau juga
menyiapkan senjata-senjata perang. Ternyata beliau tidak memiliki senjata yang
memadai. Akhirnya beliau meminjam senjata kepada beberapa tokoh di kota Makkah.
Kala itu, Rasulullah meminjam 100 (seratus) baju besi perang kepada Shafwan.
Dalam sejarah perang Hunain ini, pasukan nabi berangkat di malam hari dan
beristirahat di padang pasir. Kemudian datanglah seorang penunggang kuda, salah satu
pasukan Islam. Dia menemui Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan mengabarkan
akan banyaknya pasukan musuh. Dia menceritakan bahwa pasukan Hawazin telah pergi
ke lembah Hunain, dan mereka membawa harta benda yang banyak.
Mendegar cerita itu, Rasulullah tersenyum dan berkata, "Besok semua binatang ternak
itu akan menjadi rampasan perang kaum muslimin." Peringatan Nabi di Perang Hunain akan Amalan Jahiliah
Dalam perjalanan ke Hunain, Rasulullah dan pasukannya melewati sebuah pohon yang
sangat rindang. Di zaman jahiliyah mereka menamai pohon itu Dzatul Anwath. Mereka
menggantungkan senjata-senjata itu di pohon tersebut dan menyembelih binatang
ternak dibawahnya. Mereka melakukan hal itu untuk mendapatkan berkah dari pohon
tersebut.
Sebagian pasukan perang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam itu ada yang baru saja
masuk Islam, tentu kebiasaan jahiliyah mereka masih melekat.
Lalu mereka berkata pada Rasulullah, "Jadikanlah untuk kami tempat menggantungkan
senjata senjata kami, sebagaimana mereka dahulu memiliki tempat untuk
menggantungkan senjata-senjata (di pohon ini)."
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam menjawab, "Allah maha Besar. Demi Allah kalian
telah berbuat seperti kaum Nabi Musa. Sungguh kalian orang orang yang tidak
mengerti, ini adalah kebiasaan jahiliyah."
Rasulullah melarang mereka melakukan itu karena perbuatan tersebut adalah syirik.
Setelah itu Rasulullah dan pasukannya pun melanjutkan perjalanan ke lembah Hunain.
Rencana Licik dari Malik bin auf Terhadap Pasukan Islam
Pada tanggal 10 bulan Syawal tahun 8 H nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam
dan pasukannya sampai di Hunain. Sementara itu pasukan suku Hawazin dan Tsaqif
yang dipimpin Malik bin Auf sudah sampai lebih dulu di Hunain. Mereka sudah berada
disana beberapa hari sebelum Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan pasukan
Islam tiba.
Pasukan Malik bin Auf telah menguasai Hunain yang penuh dengan gunung-gunung.
Oleh karena itu mereka membuat rencana jahat untuk melakukan penyerangan.
Sebelum pasukan Rasulullah tiba, Malik bin Auf sudah menyiapkan orang-orang yang
ahli dalam memanah dan menombak. Malik menyuruh mereka untuk menyebar dan
bersembunyi di setiap jalan masuk dan di balik gunung, di celah-celah gunung dan di
lubang-lubang yang ada di gunung. Tentu tempat-tempat itu tersembunyi dan tidak
mudah diketahui orang lain.
Malik bin Auf memerintahkan pasukan pemanah untuk menyerang Rasulullah secara
bersamaan dan bertubi-tubi selagi mereka memasuki lembah Hunain. Ini adalah
rencana yang licik dan rencana ini mereka lakukan secara sembunyi, agar pasukan
Islam tidak mengetahuinya. Sehingga pasukan Malik dapat menyerang dan menghabisi
seluruh pasukan Islam.
Kisah Pasukan Islam Mendapatkan Serangan Bertubi-Tubi di Perang Hunain
Setelah shalat subuh, Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan pasukan Islam pergi ke
lembah Hunain. Mereka tidak mengetahui sama sekali rencana jahat Malik bin Auf.
Ketika Beliau dan para sahabat memasuki lembah Hunain, tiba-tiba mereka diserang
secara bertubi-tubi oleh pasukan Malik bin Auf.
Serangan itu membuat pasukan Islam terkejut karena langsung dihujani anak panah
serta tombak dari balik gunung secara bertubu-tubi. Serangan itu menjadikan para
sahabat kebingungan dan ketakutan sehingga barisan pun berantakan. Para sahabat itu
pun berlarian dan meninggalkan barisannya serta Rasulullah.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam melihat pasukannya mundur dari pertempuran,
langsung memanggil mereka dengan ucapannya, "Wahai pasukan kembalilah kemari.
Aku adalah Rasulullah, Muhammad bin Abdullah."
Disinilah keberanian Rasulullah terlihat. Di tengah-tengah pasukannya yang mundur,
justru beliau maju ke barisan pasukan lawan dengan mengendarai keledainya. Beliau
dengan ditemani sebagian kecil sahabat dan keluarganya maju melawan pasukan yang
berjumlah 20.000 orang. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam meminta pamannya,
Abbas untuk memanggil para sahabat yang melarikan diri.
Abbas pun memanggil para sahabat tersebut satu demi satu. Tentu para sahabat
mendengar seruan Abbas dan Rasulullah. Tak berselang lama, para sahabat itu kembali
ke medan pertempuran. Satu demi satu datang kembali dengan membawa pedang,
panah, tombak dan baju besi mereka.
Setelah pasukan Islam kembali berkumpul, mereka berusaha menyerang balik.
Keimanan mereka kepada Allah dan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam memberikan
pengaruh yang begitu besar.
Pertempuran sengit pun terjadi. Pasukan Islam menyerang dengan hebat, hingga
pasukan musuh tidak bisa lagi melawan pasukan Islam. Mereka meninggalkan medan
perang. Ada sekitar 70 orang yang terbunuh dari pasukan musuh. Mereka kabur
berlarian, sebagian kabur ke daerah Authas, sebagian ke Nakhlah dan sebagian lagi ke
Thaif.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam tidak membiarkan mereka kabur. Beliau
mengirim pasukan khusus untuk mengejar mereka dan memerintahkan pasukannya
untuk menghabisi pasukan lawan.
Seluruh binatang ternak dan harta benda milik pasukan musuh yang mereka tinggal di
medan perang menjadi harta rampasan perang kaum muslimin. Rasulullah shalallahu
alaihi wassalam menyimpannya di daerah Ji'ranah. Setelah perang usai, beliau
membagikan harta rampasan perang itu.
Kekalahan Musuh di Perang Hunain
Allah berfirman dalam Qs. At-Taubah 25-26:
َََََ لقَدْ نَصركُمْ َ ُاللّْ ِفي موا ِط َنْ َك ِثيرةْ ْۙ و َيومْ ُحنَينْ ْۙ إذْ ْأعج َبتكُمْ َكثرتُكُمْ فَلمْ تُغنْ َعنكُمْ َشيئًا و َضاقَتْ َعليكُمْ الْر ُضْ بما
َََََََََََُُِِِ
َر ُح َبتْ ثُ َمْ َولَيتُمْ ُمد ِب ِري َنْ
Sungguh, Allah telah menolong kamu (mukminin) di banyak medan perang, dan
(ingatlah) Perang Hunain, ketika jumlahmu yang besar itu membanggakan kamu, tetapi
(jumlah yang banyak itu) sama sekali tidak berguna bagimu, dan bumi yang luas itu
terasa sempit bagimu, kemudian kamu berbalik ke belakang dan lari tunggang-
langgang.
َََََََُ
ثمْ أن َز َلْ َ ُاللّْ س ِكينَتَهُ َعلىْ ر ُسو ِل ِهْ و َعلى المؤ ِم ِني َنْ وأن َز َلْ ُجنُودًا لمْ تَرو َها و َعذبْ ال ِذي َنْ َكفَ ُروا ْۙ وذَ ِل َكْ ج َزاءْ ال َكا ِفري َْن ََََََََََُُِ
Kemudian Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang
yang beriman, dan Dia menurunkan bala tentara (para malaikat) yang tidak terlihat
olehmu, dan Dia menimpakan azab kepada orang-orang kafir. Itulah balasan bagi orang-
orang kafir.
Harta Rampasan Perang Hunain yang Melimpah
Peristiwa perang Hunain yang jatuh pada tahun 8 H ini mendatangkan keberkahan
sendiri bagi kaum mualimin. Karena jumlah harta rampasan perang itu sangat besar.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam mendapatkan lebih dari 40.000 kambing, 24.000
unta dan juga perak yang begitu banyak. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam
membagikan harta itu kepada pasukan perang Islam, penduduk Makkah dan tokoh-
tokohnya yang baru saja masuk Islam dengan harapan keIslaman mereka semakin
kuat. Beliau juga membagikan harta itu kepada kaum yang belum masuk Islam dengan
harapan agar mereka masuk Islam.
Ternyata benar, suku Hawazin yang belum masuk Islam langsung berbondong-bondong
masuk Islam. Hal ini terjadi bukan karena harta rampasan perang, namun karena
kemuliaan akhlak Rasulullah. sehingga Islam semakin tersebar luas dan kuat.
Subhanallah, Subhanallah. Itulah kisah lengkap yang dahsyat dari perang Hunain.
Semoga cerita ini bisa menambah keimanan kita kepada Allah dan RasulNya. Tulisan ini
diringkas dari kitab Ar-Rahiqul Makhtum, Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri dan
Kisah Anak Perang dalam Islam, Qids, Nizar Saad Jabal Lc.

Comments
Post a Comment