Kisah Imam Ahmad bin Hanbal

 


Kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang Penuh Hikmah (Detail)

Kisah perjalanan hidup Imam Ahmad adalah serial cerita yang penuh berkah, beliau hidup di

tengah-tengah fitnah dan kedzaliman penguasa. Imam Ahamd bangkit mendidik masyarakat

dengan penuh hikmah berdasarkan akhlak yang mulia. Dunia ditawarkan kepadanya, maka dia

menolaknya. Kesesatan ditunjukkan kepadanya, maka dia melenyapkannya. Subhanallah,

membayangkan kisah hidup beliau saja, rasanya sudah tidak sabar untuk membacanya. Siapa

Imam Ahmad sebenarnya?

Biografi Imam Ahmad bin Hanbal

Nama asli beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin

Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf bin Qasith bin Mazin bin Syaiban bin

Dzuhl bin Tsa’labah bin Ukabah bin Sha’b bin Ali bin Bakr bin Wa’il bin Qasith bin Hinb bin

Qushai bin Du’mi bin Judailah bin Asad bin Rabi’ah bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.

Biasa dijuluki Imam Abu Abdillah atau Imam Ahamad. Selain itu, beliau memiliki nasab yang

agung. Karena garis keturunan beliau bertemu dengan garis keturunan Nabi Muhammad

Shalallahu alaihi wassalam, pada kakek yang bernama Nizar bin Ma'ad.

Ahmad bin Hanbal dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H. Beliau lahir

dari keluarga yang berkecukupan. Bahkan, Ayah Imam Ahmad yang bernama Muhammad bin

Hanbal menjabat sebagai walikota Sarakhs, dan dia salah seorang anggota dakwah Abbasiyyah,

Wafat di usia 30 tahun, 179 H.

Imam Ahmad dikenal sebagai orang yang selalu memakai pakaian bersih, rapi, dan wangi. Ibnu

Dzuraih al-Akbari mengatakan tentang ciri-ciri Imam Ahamad bin Hanbal, "Aku mencari

Ahmad bin Hanbal, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, dan dia adalah seorang syaikh yang

mewarnai dengan inai, tinggi, berkulit sawo matang."

Selain itu, Muhammad bin Abbas an-Nahwi juga berkata tentang bliau dalam biografinya, "Aku

melihat Ahmad bin Hanbal berwajah tampan, berperawakan sedang, memakai warna dengan

inai, tidak merah padam, di jenggotnya terdapat rambut-rambut hitam. Aku melihat pakaiannya

kasar berwarna putih dan aku melihatnya memakai sorban serta menggunakan sarung."

Kisah Perjalanan Imam Ahmad dalam Mencari Ilmu

Kisah perjalanan beliau dalam menuntut ilmu bisa dijadikan sebagai tauladan bagi anak-anak dan

orang dewasa pada umumnya, di mana sejak kecil beliau sudah terbiasa belajar. Tanda-tanda

kejeniusan tampak dari Imam Ahmad pada saat itu. Hafalan ilmunya sedemikian melimpah.

Sehingga Imam Ahmad bisa menghafal Al-Quran di usia 10 tahun. Beliau banyak belajar dari

keluarga terdekat beliau. Karena banyak dari kluarga Imam Ahmad yang menjadi ulama.

Ketika Imam Ahmad berusia 16 tahun, beliau mulai belajar mencari hadist kepada ulama

Baghdad yang bernama Husyaim bin Basyir Rahimahullah. Saat beliau berusia 20 tahun,

Husyaim bin Basyir meninggal dunia (183 H). Jadi beliau belajar bersama Husyaim hanya 4

tahun. Setelah kematian gurunya, Imam Ahmad melakukan perjalanan menuntut ilmu yang

pertama kalinya menuju ke kota Kufah. Imam Ahamd belajar di Kufah selama 3 tahun.

Kemduian beliau pergi ke Bashrah untuk melanjutkan belajarnya.

Setelah selesai belajar di Bashrah, Imam Ahamad belum merasa puas, karena beliau haus akan

ilmu. Akhirnya, Imam Ahmad pun pergi ke Hijaz, Makkah, Madinah, Yaman, Syam, daerah-

daerah perbatasan, Eufrat, tanah Persia dan lainnya. Subhanaallah, betapa semangatnya Imam

Ahmad dalam belajar, semoga kita bisa mencontoh beliau.

Meskipun Imam Ahamad sudah belajar dan berkeliling ke berbagai negara, beliau tidak pernah

melupakan kampung halamannya. Imam Ahmad kembali ke Baghdad dan memimpin orang-

orang sezamannya. Beliau mengajarkan ilmu yang telah dipelajarinya. Ia pun menjadi salah satu

ulama besar di kota Baghdad, setiap kali Imam Ahmad mengajar, jumlah murid yang hadir

mencapai 1000 orang. Subhanaallah.

Ahmad bin Hanbal pernah bertemu dengan Imam Syafii di Baghdad dan berpisah tatkala Imam

Syafii pindah ke Mesir. Ketika itu, Imam asy-Syafii pernah tidak tidur demi mendengarkan

hadist yang dibacakan Imam Ahmad.

Kisah Imam Ahmad Dipenjara

Setelah Imam Ahmad kembali ke Baghdad, di sana sudah tersebar ajaran yang salah

(pemahaman Mu'tzailah), dan ajaran ini diakui oleh pemerintah. Mereka meyakini Al-Quran

adalah makhluk yang Allah ciptakan, padahal sebenarnya Al-Quran itu kalamullah bukan

makhluk. Saat itu, pemerintah terus mendesak Imam Ahmad beserta Ahluss Sunnah lainnya

untuk mengatakan Al-Quran adalah makhluk, jika tidak mau mengatakan, ia akan disiksa dan

dipenjara.

Sebenarnya kisah ini cukup banyak dan menarik, namun karena untuk memudahkan pembaca,

maka kami tulis di bab tersendiri, silahkan bisa dibaca Kisah Imam Ahmad Dipenjara.

Pujian Ulama Terhadap Imam Ahmad bin Hambal

Kesungguhan Imam Ahmad terhadap ilmu, dan semangat beliau serta kegigihan beliau terhadap

cobaan, telah mengundang decak kagum para ulama di masanya, sehingga mereka pun memuji beliau. Salah satu ulama tersebut adalah Ali bin Al-Madini, ia berkata, "Sesungguhnya Allah telah memuliakan agama ini dengan dua orang, tiada yang ketiga, yaitu Abu Bakar pada saat terjadi kemurtadan dan Ahmad bin Hanbal pada saat terjadi Mihnah (ujian)."

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Said ad-Darimi, dia memuji

keilmuan Imam Ahmad dan berkata, "Aku tidak pernah melihat kepala berambut hitam yang

lebih tahu hadits Rasulullah dan lebih tahu dengan fiqih serta maknanya daripada Abu Abdillah

(Ahmad bin Hanbal)."

Abu Dawud memuji, "Majelis Imam Ahmad adalah majelis akhirat, di dalamnya tidak

disebutkan perkara dunia." Itulah beberapa penggal pujian-pujian para ulama terhadap kelebihan

dan kemuliaan yang dimiliki oleh Ahmad bin Hanbal (Imam Ahmad).

Imam Ahmad Ulama yang Zuhud dan Wara

Sahabat abana, meskipun Ahmad bin Hanbal seorang yang berkecukupan serta keluarganya

memiliki kedudukan, beliau tetap lebih memilih zuhud (Tidak cinta dunia demi mendekatkan diri

kepada Allah). Beliau memakan dengan makanan yang sederhana.

Shalih bin Ahmad bin Hanbal mengatakan, "Dia seringkali menjadikan cuka sebagai lauk.

Terkadang aku melihatnya makan roti kering, lalu dia menghilangkan debu darinya, kemudian

meletakkan di dalam piring dan menuangkan air padanya hingga menjadi lunak dan

memakannya dengan garam. Aku tidak pernah melihatnya sama sekali makan delima, safarjal

(sejenis pear) atau sesuatu dari buah-buahan kecuali dia membeli semangka lalu memakannya

dengan roti, anggur atau kurma. Adapun selain itu, maka aku tidak pernah melihatnya dan dia

tidak membelinya. Terkadang kami membeli sesuatu lalu kami menutupi darinya hingga dia

tidak melihat kami sehingga dia mencela kami akan hal itu."

Selain zuhud, beliau juga memiliki sikap Wara’ yang luar biasa, di saat Al-Mutawakil

memberikan hadiah kepada Ahmad bin Hanbal dan anaknya serta keluarganya sebanyak 4 ribu

dirham setip bulan. Maka Imam Ahmad mengutus seseorang kepadanya bahwa mereka sudah

cukup. Sebagai balasannya, al-Mutawakkil mengirimkan untusan kepadanya seraya berkata, "Ini

hanyalah untuk anakmu bukan untukmu."

Maka Imam Ahmad menjawab, "Wahai paman, apa yang masih tersisa dari umur kita? Seakan-

akan engkau menghadapi urusan yang telah menimpa kita. Maka takutlah kepada Allah, takutlah

kepada Allah. Sesungguhnya anak-anak kami hanyalah ingin makan melalui kami dan

sesungguhnya ini hanyalah hari-hari yang sebentar di dunia. Bersabar sebentar, dan pahala yang

panjang. Ini tidak lain hanyalah fitnah (ujian)."

Guru-Guru dan Murid-Murid Imam Ahmad bin Hanbal

guru.

Sebelumnya sudah disebutkan bahwa Imam Ahmad adalah ulama yang rajin dan giat belajar.

Sampai-sampai berkeliling ke banyak negara, maka tidak heran jika beliau mempunyai banyak

Al Mizzi menyebutkan dalam Tahdzibnya bahwa guru Imam Ahmad sebanyak 104 orang. Di

antara guru-guru imam Ahmad bin Hanbal adalah Husyaim bin Basyir, Waki bin Jarrah, Abu

Said maula Bani Hasyim, Muhammad bin Yazid al-Wasithi, Yazid bin Harun al-Wasithi, Yahya

bin Sulaim ath-Thaifi, al-Walid bin Muslim dan lain sebagianya.

Adapun murid-muridnya, yang pertama adalah kedua putranya, Abdullah dan Shalih, anak

pamannya Hanbal bin Ishaq, al-Hasan bin ash-Shabbahal-Bazzar, Muhammad bin Ismal al-

Bukhari, Muslim bin Hajjaj an-Naisaburi, Abu Dawud as-Sijistani, Musa bin Harun, Muhammad

bin Ubaidullah al-Munada dan masih banyak lagi.

Kisah Wafatnya Imam Ahmad bin Hanbal

Imam Ahmad wafat pada permulaan bulan Rabiul Awal, 241 H. Beliau meninggal karena

menderita sakit. Pada saat itu banyak orang yang menjenguknya dengan rombongan hingga

memenuhi jalan perkampungan rumah Imam Ahmad.

Imam Ahmad juga meninggalkan beberapa karya dalam banyak kitab yang beliau tulis. Karya-

karya tersebut yaitu kitab Nafyu at-Tasybih 1 jilid, kitab al-Imamah 1 jilid kecil, kitab ar-Radd

‘ala az-Zanadiqah 3 juz, kitab az-Zuhd 1 jilid besar dan kitab ar-Risalah mengenai shalat.

Penyebaran Madzhab Hanbali

Semoga Allah merahmati Imam Ahmad yang telah mengisi hidupnya dengan belajar dan

memperjuangkan agama Islam. Sekian Kisah Imam Ahmad bin Hanbal yang Penuh Hikmah.

Ditulis oleh Abu Zaid Sumber:

Tag Hafalan:

• Min A'lam As-Salaf Syaikh Ahad Farid, edisi Indo, Darul Haq 2014

• Serial Ulama Ahlussunnah, Nurdin Apud Sabrini Lc

  1. Nama asli beliau adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad bin Idris bin Abdullah bin Hayyan bin Abdullah bin Anas bin Auf, di juluki Abu Abdillah atau Imam Ahmad

  2. Imam Ahmad lahir pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 164 H

  3. Ayahnya yang bernama Muhammad bin Hanbal wafat di usia 30 tahun, 179 H

  4. Beliau hafal Quran berumur 10 tahun dan belajar bersama Husyaim bin Basyir selama 4

    tahun, dari usia 16-20

  5. Kufah adalah kota pertama kali yang beliau tuju dalam menimba ilmu agama bersama

    ulama, lalu ke Bashrah, Makkah dan lain sebagainya

  6. Imam Ahmad wafat pada permulaan bulan Rabiul Awal, tahun 241 Hijriyah. Meninggal

    karena sakit

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin