Kisah Lengkap Aisyah binti Abu Bakar
Aisyah ummul Mukminin adalah istri Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam sekaligus
putri dari sahabat mulia Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau termasuk wanita yang paling dicintai
Rasulullah setelah meninggalnya Khadijah binti Khuwailid.
Aisyah binti Abu Bakr lahir pada tahun ke 4 dari kenabian. Ibunya yang bernama Ummu Ruman
binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah meninggal dunia saat Rasulullah masih
hidup, yaitu tahun ke-6 H.
Ciri-Ciri Fisik dan Sifat Aisyah binti Abu Bakr
Tidak diragukan lagi bahwa istri dari manusia terbaik ini memiliki ciri-ciri dan sifat yang mulia.
Aisyah adalah wanita yang berparas cantik, dan berkulit putih kemerah-merahaan. Sebab itulah
Aisyah dipanggil oleh rasul dengan panggilan "Humaira" yang artinya pipi Aisyah yang merah
merona.
Selain dikenal dengan kecantikannya, Aisyah juga dikenal dengan kecerdasan dalam berfikir,
serta fasih dalam bertutur. Maka tidak salah lagi jika Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
menjadikannya sebagai pendamping hidupnya.
Kisah Aisyah binti Abu Bakr Menikah Dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Ketika Allah Ta'ala memberikan beban amanah yang berat kepada nabi, maka di saat itu juga
Allah Ta'ala menghadirkan pendamping hidup yang dapat dijadikan sebagai penyejuk mata dan
pelipur lara. Proses pernikahan Rasulullah dengan Aisyah sangatlah indah. Yaitu, melalui
malaikat Jibril yang turun menemui nabi, kemudian Jibril menunjukkan gambar Aisyah kepada
Rasulullah.
Beliau bersabda, "Aku memimpikanmu selama tiga malam (berturut-turut), gambarmu dibawa
malaikat di selembaran kain sutra, lalu ia mengatakan, 'Ini istrimu'. Aku pun menyingkap
wajahmu (sosok dalam gambar tersebut), ternyata kamulah orangnya. Kemudian aku berkata,
'Kalau (perintah) ini berasal dari Allah, pasti Dia tuntaskan."
Dalam hadits lain, suatu hari Jibril memperlihatkan kepada Rasulullah gambar Aisyah pada
secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, "Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia
dan di akhirat." (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041)
Maka, nabi pun menikahi Aisyah di usia 6 tahun, tepat pada bulan Syawal tahun 11 kenabian
atau 2 tahun sebelum hijrah ke Madinah. Kemudian, pada tahun ke-2 hijriyah, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya, dan saat itu Aisyah sudah
berumur 9 tahun.
Aisyah berkata, "Rasulullah menikahiku saat aku berusia 6 tahun dan aku diserahkan kepada
beliau saat berusia 9 tahun. Kala itu aku masih senang bermain ayunan dan aku memiliki rambut
palsu. Aku pun diminta datang saat aku sedang main ayunan. Kemudian aku diambil dan
dipersiapkan. Setelah itu aku diserahkan kepada beliau. Gambarku diperlihatkan kepadaku di
kain sutra. Rasulullah menikahiku pada bulan Syawwal dan menggauliku pada bulan Syawal.
Siapa gerangan istri-istri Nabi yang lebih beruntung dariku?"
Aisyah menceritakan, "Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya
Khadijah, sedangkan aku saat itu masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan
Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Suatu hari para wanita datang kepadaku padahal aku
sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan
mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam." (Lihat Abu Dawud: 9435).
Namun, dengan cerita ini justru banyak orang-orang yang berpandangan jika nabi menikahi
Aisyah adalah karena Syahwat, Naudzubillah.
Perlu diketahui bahwa wanita-wanita yang dinikahi Rasulullah tidak lain demi kepentingan
syariat bukan dorongan syahwat diri. Nabi menikahi Aisyah dengan maksud untuk memperkuat
komunikasi dengan Abu Bakar, Nabi menikahi Hafshah demi memperkuat komunikasi dengan
Umar bin Khattab, menikahi Saudah karena ditinggal mati suaminya dan tak ada seorangpun
yang mengurusnya, menikahi Zainab binti Jahsy untuk menjelaskan bolehnya menikahi mantan
istri anak angkat, sebagai bantahan terhadap orang-orang musyrik yang melarang menikahi
mantan istri anak angkat, beliau menikahi Shafiyah binti Huyai demi kepentingan politik, yaitu
mendekati Yahudi dan mendorong mereka untuk masuk Islam.
Jika Nabi memperturutkan syahwat tentu saja tidak memilih wanita-wanita tua seperti Saudah,
Ummu Salamah dan Zainab binti Khuzaimah. Kenapa pula Nabi tidak langsung menikah setelah
Khadijah meninggal dunia? Dan kenapa Nabi tidak tertarik menikahi gadis-gadis muda nan
cantik jelita. Intinya Nabi dinikahkan bukan beliau yang berkeinginan untuk menikah, namun
karena perintah Allah, beliau tidak menikah tanpa adanya perintah Ilahi yang menyetujui atau
menolak, semoga bisa dipahami.
|
Kemudian, hari demi hari ia lalu bersama nabi, berumah tangga dalam suka dan duka, kehidupan |
|
romantis bersama rasul berjalan begitu cepat. Akhirnya Rasulullah meninggal dunia (tahun 11 H) |
|
sedang usia Aisyah berumur 18 tahun, sehingga biduk rumah tangga beliau berlangsung selama 8 |
tahun 5 bulan, dan siti Aisyah Radiyallahuanha tidak memiliki anak seorang pun. Semoga Allah
Ta'ala mengumpulkan kita bersama keluarga nabi. Amiin
Candaan Nabi kepada Aisyah binti Abu Bakar
Setelah nabi wafat, banyak sekali kenangan-kenangan Aisyah Radiyallahuanha bersama
Rasulullah. Salah satunya adalah saat ia bermain boneka dengan teman-temannya. Aisyah
bercerita, "Suatu waktu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku
sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil."
Lalu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bertanya kepadaku, "Apa ini wahai Aisyah." Lalu
aku katakan, "Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap." Maka Nabi Shallallahu
alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban
(13/174)
Dalam kisah lain suatu hari Rasulullah Shallallahu aalaihi wa sallam berlomba lari dengan
Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, "Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berlari dan
mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku
gemuk, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului,
kemudian beliau mengatakan, "Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu."
(HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238)
Ketawadhu'an Aisyah
Terlepas dari itu semua, beliau juga seorang shohabiyah yang sangat rendah diri serta tawadhu.
Suatu ketika Aisyah berkata, "Demi Allah sungguh aku berharap andai saja aku ini sebatang
pohon. Demi Allah, sungguh aku berharap andai saja aku ini lumpur. Demi Allah, sungguh aku
berharap andai saja Allah tidak menciptakan diriku sama sekali."
Ibnu Abbas datang menjenguk Aisyah dan mengatakan, "Bergembiralah wahai Aisyah, beliau
tidak menikahi seorang perawan selain dirimu dan pembebasanmu (dari tuduhan keji) turun dari
langit." Kemudian Ibnu Zubair masuk setelah Ibnu Abbas pergi. Maka Aisyah berkata
kepadanya, "Tadi Ibnu Abbas memuji-muji diriku, padahal hari ini aku tidak ingin mendengar
pujian dari seorangpun. Sungguh andai saja aku ini menjadi barang yang tak berarti lagi
dilupakan."
Kecerdasan dan Kefashihan Aisyah
Sebagaimana yang tertulis pada paragraf awal, beliau memiliki kecerdasan dan kefasihan. Kata-
kata Aisyah memancarkan kilauan kedalaman dan kefashihan, keindahan gaya bahasa, ungkapan
nan lembut dan kuatnya penjelasan. Kita bisa mengetahui kefashihan yang istimewa ini melalui
khutbah yang ia sampaikan terkait pembelaannya terhadap ayahnya, Abu Bakar.
Suatu ketika ia mendengar ada sekelompok kaum mencela Abu Bakar setelah wafatnya.
Kemudian ia mengirim seseorang untuk memanggil sekelompok kaum tersebut. Setelah mereka
datang, Aisyah menurunkan tabir dan meninggikan bantalnya lalu berkata, "Ayahandaku,
tahukah kalian siapa dia? Demi Allah ia takkan tersentuh oleh tangan-tangan (kotor). Ia laksana
gunung nan tinggi dan ranting nan panjang.
Jauh, jauh sekali (apa yang kalian tuduhkan). Maka dustalah syak wasangka itu. Ia (Abu Bakar)
beruntung kalian merugi. Ia mendahului kala kalian melambat. Ia mampun mengalahkan kuda
tangkas ketika telah sampai tujuan. Ia tumbuh dewasa sebagai pemuda Quraisy. Ia adalah tempat
bernaung bagi kaum Quraisy kala telah menginjak dewasa.
Ia membebaskan tawanan Quraisy, membantu orang Quraisy yang fakir, membenahi perpecahan
di tengah kaum Quraisy dan menyatukan yang tercerai berai hingga meraih simpati mereka.
Selanjutnya ia terus melangkah dalam agama Allah dengan tetap teguh karena Allah hingga
halamannya dijadikan masjid, di sana ia menghidupkan apa yang dimatikan para pengikut
kebatilan. Abu Bakar biasa menangis, bersedih hati, suaranya serak dengan nada sedih, hingga
kaum wanita dan anak-anak Makkah menghina dan mencemoohnya.
Dan yang dahsyat menghina dirinya adalah para tokoh Quraisy.
Dunia bak seorang ibu datang menghampirinya namun ia berpaling darinya. Dunia datang
menghadangnya, namun ia enggan dan melarikan diri darinya. Setelah itu ia bagi-bagikan
hasilnya untuk kaum muslimin dan tetap mempertahankan sumbernya.
Maka tunjukkan kepadaku, apa yang kalian cibir? Pada bagian manakah yang kalian cerca dari
kehidupan ayahku?Apakah saat ayahku menegakkan keadilan di tengah-tengah kalian? Ataukan
saat ayahku pergi meninggalkan dunia ini kala memandang kalian? Demikian yang bisa aku
sampaikan. Kepada Allah jua memohon ampunan untuk kita semuanya."
Setelah itu Aisyah menghadapkan wajah ke arah mereka, lalu bertanya, "Atas nama Allah aku
bersumpah kepada kalian, apakah kalian mengingkari sedikitpun dari kata-kata yang ku
sampaikan?" "Tidak" jawab mereka.
Keutamaan-Keutamaan Ibunda Aisyah Radiyallahuanha
Banyak sekali keutamaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh ummul Mukminin Aisyah, sampai-
sampai Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:
"Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita
hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita
sepeerti keutamaan tsarid atas segala makanan." (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))
keutamaan
1. Aisyah Memiliki 9 Poin yang Tidak Diberikan Kecuali Kepadanya
Apa saja
Aisyah Radiyallahuanha?
Aisyah berkata, "Aku diberi sembilan hal yang tidak diberikan pada seorang wanita pun setelah
Maryam binti Imran, yakni:
|
|
-
Aku diciptakan sebagai wanita baik, pendamping seorang lelaki baik.
-
Aku dijanjikan ampunan dan rezeki mulia.
2. Aisyah Adalah Istri Rasulullah yang Paling Dicintai
Amru bin Ash mengatakan, "Rasulullah mengutusku untuk membawahi sekelompok pasukan
perang Dzatus Salasil. Akupun menemui beliau, lalu bertanya, 'Siapa manusia yang paling
engkau cintai?'
Beliau menjawab, 'Aisyah.' Dari kaum lelaki? Tanyaku. 'Ayahnya' jawab beliau.
Kemudian beliau menyebut sejumlah nama, lalu aku diam karena khawatir jika namaku beliau
sebut di bagian akhir dari mereka."
Aisyah adalah wanita yang pernah mendapat salam dari Jibril
3. Aisyah Adalah Istri Nabi di Dunia dan Akhirat
Suatu hari Rasulullah bersabda, "Hai Aisyah, ini Jibril, dia mengucapkan salam untukmu."
Aisyah menjawab, "Waalaihisaalam wa rahmatullahi wa barakatuh, engkau melihat apa yang
tidak aku lihat."
Aisyah adalah istri Rasulullah di dunia dan di akhirat. Abdullah bin Ziyad al Asadi mengatakan,
"Saat Thalhah, Zubair dan Aisyah pergi menuju Bashrah, maka Ali mengutus Ammar bin Yasir
dan Hasan bin Ali. Keduanya pun tiba di hadapan kami di Kufah, lalu keduanya naik mimbar.
Hasan bin Ali berada di tangga mimbar bagian atas. Ammar bin Yasir berdiri di tangga mimbar
bagian bawah Hasan. Kami berkumpul dihadapannya, lalu aku mendengar Ammar berkata,
'Demi Allah dia (Aisyah) adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat. Namun Allah menguji
kalian, agar Ia tahu apakah kalian taat kepadaNya ataukah dia (Aisyah)."
4. Aisyah Adalah Wanita yang Paling Tahu Tentang Ilmu dari Kalangan Shohabiyah
Berkata Ibnu Abdil Barr, "Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki
kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehetan, dan ilmu syair."
Berkata az-Zuhri, "Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengna ilmu seluruh para wanita lain,
maka ilmu Aisyah lebih utama." (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))
Berkata Atha, "Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah
pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum." (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim
(4/11))
5. Aisyah Adalah Wanita yang Suci
Prahara fitnah serta tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik kepada Aisyah untuk
menjatuhkan martabat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah tumbang dengan turunnya 16 ayat
secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat [Qs. An-Nur 11-26]. Allah
Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan
dan rezeki yang baik.
Kisah Wafatnya Aisyah
Setelah melalui kehidupan yang sarat akan kelebihan dan keutamaan, akhirnya Aisyah wafat
membaringkan pelipisnya di atas ranjang kematian. Diriwayatkan dari Abu Musa al Asy'ari ia
berkata, "Tidaklah kami para sahabat Rasulullah mengalami kesulitan dalam suatu haditspun,
lalu kami bertanya kepada Aisyah, melainkan pasti kami temukan jawaban darinya."
Diriwayatkan dari Masruq, ia berkata, "Kami bersumpah atas nama Allah, sungguh kami melihat
para tokoh sahabat Rasulullah bertanya kepada Aisyah tentang warisan. Dan Az Zuhri berkata,
'Andai ilmu Aisyah disatukan dengan ilmu seluruh Istri Nabi dan seluruh kaum wanita, tentu
ilmu Aisyah lebih banyak."
Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa
pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun.
Referensi:
Ar-Rahiqul Makhtum Syaikh Mubarak Furi
Majalah Al-Furqan/06/Oktober 2016
Biografi Istri Istri para Nabi Dr.Musthafa Murad /Qiblatuna April 2014
Tag Hafalan
|
|

Comments
Post a Comment