Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah


Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzafah Pembebas Tawanan Muslimin Latar Belakang dan Biografi Abdullah bin Hudzafah

Dia adalah Ibnu Qois, Abu Hudzafah as-Sahmi salah satu sahabat nabi yang pertama masuk

Islam (as-Sabiqunal Awwalun). Beliau dikenal sebagai sahabat yang diutus oleh Rasulullah

Shalallahu alaihi wassalam untuk menyampaikan surat kepada raja Persia, dan juga dikenal

sebagai salah satu tawanan perang dari Kaisar Romawi Timur alias raja Heraklius.

Sebagaimana sahabat-sahabat yang pertama kali masuk Islam lainnya (ex: Abu Bakar, Umar,

Thalhah, Bilal dll), ia juga memiliki keimanan yang kuat terhadap Islam, cobaan berat pun tak

luput ia rasakan. Hal itu dibuktikan saat beliau menghadapi dua penguasa dunia di zamannya,

Kisra Raja Persia dan Kisra Raja Romawi Heraklius. Bagaimana kisahnya? berikut kisah

Abdullah bin Hudzafah bertemu 2 penguasa dunia.

Kisah Teladan Abdullah bin Hudzafah saat Bertemu dengan Raja Persia

Cerita Abdullah bin Hudzafah bertemu dengan Raja Persia ini dimulai saat tahun 6 Hijriyah, di

mana Rasulullah -Shalallahu alaihi wassalam- ingin menyebarluaskan dakwah Islam dengan

menulis delapan surat kepada raja-raja Ajam agar mereka mau masuk Islam. Maka nabi pun

mengutus beberapa sahabat untuk menyampaikan suratnya.

Mengirim surat kepada raja-raja Ajam adalah tugas yang berat, sebab para utusan itu akan

berangkat ke negeri-negeri yang sangat jauh, mereka tidak memahami bahasa penduduknya, dan

mereka juga tidak mengenal kebiasaan raja-rajanya.

Ditambah lagi para utusan tersebut harus menyeru kepada raja-raja Ajam agar meninggalkan

agama mereka, meninggalkan apa yang sudah menjadi kebanggaan dan kekuasaan mereka, untuk

masuk ke dalam agama milik suatu kaum yang belum lama menjadi bagian dari pengikutnya

(pen. agama Islam)

Oleh sebab itu nabi mengumpulkan para sahabatnya, dan berkhutbah di hadapan mereka, beliau

memuji Allah dan menyanjungNya, beliau bertasyahud lalu bersabda, "Amma Ba'du,

sesungguhnya aku akan mengutus sebagian dari kalian kepada para raja Ajam, maka jangan

berselisih atasku seperti Bani Israil yang berselisih atas Isa putra Maryam."

Bagaimana jawaban para sahabat setelah mendengar Khutbah beliau Shalallahu alaihi

wassalam??

Para sahabat menjawab, "Ya Rasulullah, kami akan menunaikan tugasmu dengan baik, silakan

mengutus siapa yang engkau inginkan."

Akhirnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam memilih 6 orang dari para sahabat untuk

mengemban misi tersebut (menyampaikan surat-surat beliau kepada raja-raja Ajam). Dan di

antara keenam orang itu adalah Abdullah bin Hudzafah as Sahmi.

Kemudian Abdullah bin Hudzafah mempersiapkan kendaraannya, mengucapkan selamat tinggal

kepada istri dan anak-anaknya. Setelah itu dia berangkat menuju ke tempat tujuan, dataran tinggi

mengangkatnya, lembah menurunkannya, sendiri tidak bersama siapapun kecuali Allah.

Akhirnya dia pun tiba di negara Persia, dia meminta izin bertemu Raja, dan mengatakan kepada

para penjaga bahwa surat yang dia bawa sangat penting.

Mendengar akan kedatangan utusan dari nabi, kisra pun meminta agar istananya dihias, dia

mengundang para pembesar negara untuk hadir di majelisnya dan mereka pun hadir, kemudian

Abdullah bin Hudzafah diizinkan masuk kedalam Istananya.

Abdullah bin Hudzafah masuk menemui pemimpin negeri Persia dengan jubahnya yang usang

dan pakaiannya yang terajut dengan kasar, terlihat kebersahajaan orang Arab pada dirinya.

Meski kedaan seperti itu, dia tetap menunjukan kehormatannya, beliau hadir dengan kepala tegak

dan badan tegap, dadanya bergolak dengan kemuliaan Islam, hatinya berkobar dengan

keagungan iman. Begitu Abdullah masuk, Kisra memberi isyarat kepada salah seorang

pengawalnya agar mengambil surat dari tangan Abdullah, namun Abdullah bin Hudzafah

menepis seraya berkata, "Tidak, Rasulullah memerintahkanku agar menyerahkannya kepadamu

secara langsung, aku tidak akan menentang perintah Rasulullah."

Maka Kisra berkata kepada pengawalnya, "Biarkan dia mendekat kepadaku." Maka Abdullah

mendekat sehingga dia menyerahkan surat Rasulullah kepadanya secara langsung.

Kemudian Kisra memanggil seorang sekretaris dari al Hirah (nama daerah yang ada di Irak) dan

memerintahkannya untuk membuka surat dihadapannya serta membacakan kepadanya.

Dia pun membacakannya yang isinya adalah:

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dari Muhammad Rasulullah

kepada Kisra penguasa Persia, salam kepada orang yang mengikuti petunjuk..."

Begitu Kisra mendengar bagian surat tersebut, maka api kemarahan langsung tersulut dalam

dadanya, wajahnya memerah, urat lehernya menegang, Raja marah bukan karena ajakan untuk

masuk Islam, tapi karena Rasulullah memulai suratnya dengan menyebut nama dirinya bukan

Raja atau gelar terhormat lainnya, maka Kisra pun menarik surat itu dari tangan sekretaris, lalu

merobeknya tanpa mengetahui apa isinya sambil berteriak, "Beraninya dia menulis seperti ini

padahal dia adalah bawahanku (yang tinggal di wilayah kekuasaanku)"

Kemudian Kisra memerintahkan agar Abdullah bin Hudzafah diusir dari majelisnya, maka dia

pun diusir.

Setelah itu Abdullah bin Hudzafah meninggalkannya, dalam keadaan seperti ini, bisa saja dia

dibunuh dalam perjalanan, namun dia berkata dalam hati dengan keteguhan Imannya, "Demi

Allah aku tidak peduli dalam keadaan apapun, yang penting aku sudah menunaikan tugas

Rasulullah." Lalu dia menaiki kendaraannya.

Tatkala kemarahan Kisra sudah mereda, dia memerintahkan pasukannya agar Abdullah bin

Hudzafah dipanggil, namun mereka sudah tidak menemukannya, mereka mencari-cari Abdullah

di jalan-jalan yang menuju Jazirah, akhirnya mereka menemukan Abdullah sudah jauh

meninggalkan Persia.

Ketika Abdullah bin Hudzafah bertemu dengan Nabi, dia menyampaikan bahwa Kisra telah

merobek surat beliau, maka Nabi berdoa dengan singkat, "Semoga Allah merobek-robek

kerajaannya."

Singkat cerita, kisra menulis surat kepada Badzan, gubernur Yaman, "Utuslah dua orang laki-laki

yang kuat kepada seorang laki-laki yang mengaku Nabi di Hijaz, perintahkan dua orang laki-laki

itu agar membawanya kepadaku."

Maka Badzan mengutus dua orang laki-laki terpilih kepada Rasulullah dengan membawa surat

darinya, dalam surat itu Badzan meminta Rasulullah agar segera berangkat menemui Kisra

bersama dua orang laki-laki utusannya. Badzan meminta dua utusannya agar mencari tahu

tentang berita Nabi, meneliti perilakunya dan membawa wawasan-wawasan yang mereka ketahui

tentang pribadi Rasulullah.

Dua orang laki-laki itu berangkat, keduanya berjalan dengan cepat sehingga sampai ke Thaif dan

bertemu dengan beberapa pedagang Quraisy, keduanya bertanya tentang keberadaan Rasulullah.

Mereka mengatakan, "Muhammad di Yatsrib (Madinah)."

Dua orang utusan Badzan pergi ke Yatsrib dan bertemu dengan Rasulullah. Mereka

menyerahkan surat Badzan seraya berkata, "Dari raja Kisra, dia telah menulis surat kepada raja

kami (Badzan) agar mengirim orang yang diberi tugas membawamu kepadanya, kami datang

kepadamu agar kamu berkenan berangkat bersama kami kepada Kisra, jika kamu berkenan

berangkat maka kami akan meminta Kisra agar memperlakukan kamu dengan baik dan tidak

menyakitimu, namun jika kamu menolak maka kamu telah mengetahui kekuatannya,

kekejamannya dan kemampuannya untuk mencelakakanmu dan kaummu."

Rasulullah hanya tersenyum dan bersabda kepada mereka, "Pulanglah ke tempat istirahat kalian,

kembalilah esok hari."

Keesokan harinya, dua utusan Badzan kembali pada Rasulullah dan berkata, "Apakah kamu

sudah bersiap-siap untuk berangkat bersama kami menemui Kisra?"

Nabi menjawab, "Kalian berdua tidak akan bertemu Kisra setelah hari ini. Allah telah

mematikannya, Dia telah menyerahkan kekuasaannya kepada anaknya Syirawaih di malam ini

dan bulan ini."

Keduanya menatap wajah Rasulullah dalam-dalam, rasa takjub terbaca jelas dari raut muka

keduanya. Mereka berkata, "Apakah kamu menyadari apa yang kamu katakan? Kami akan

menulis hal ini kepada Badzan."

Nabi menjawab, "Ya, katakan kepadanya bahwa agamaku akan menjangkau apa yang dijangkau

oleh kerajaan Kisra, jika kamu masuk Islam maka aku akan memberimu apa yang ada

ditanganmu dan menjadikanmu raja atas umatmu."

Dua utusan itu meninggalkan Nabi dan pulang ke Yaman, mereka mengabarkan hal itu kepada

Badzan. Kemudian Badzan berkata, "Jika apa yang dikatakan Muhammad benar maka dia adalah

Nabi, jika tidak maka kami akan berpikir ulang."

Tidak lama setelah itu, Badzan menerima surat Syirawaih yang berisi:

"Amma ba'du, aku telah membunuh Kisra, aku tidak membunuhnya kecuali demi membalas

dendam untuk kaum kita, dia telah membunuh orang-orang mulia dari mereka, menawan kaum

wanita dan merampas harta benda mereka. Jika suratku ini telah sampai di tanganmu maka

ambillah baiat dari kaummu untukku."

Bagitu Badzan membaca surat tersebut, dia langsung mengumumkan keislamannya, orang-orang

Persia di Yaman juga mengikutinya masuk Islam. Subhanaallah, doa-doa apa saja yang keluar

dari lisan nabi pasti akan terkabul, baik doa-doa kebaikan maupun kejelakan. Itulah kisah

Abdullah bin Hudzafah dengan Raja Persia. Lalu bagaimana kisahnya dengan Raja Romawi?

Kisah Abdullah bin Hudzafah Bertemu Raja Romawi Heraklius

Peristiwa Abdullah bin Hudzafah dengan Raja Romawi terjadi pada zaman khalifah Umar bin

Khattab, yakni pada tahun ke 19 hijriyah. Kala itu Umar bin Khattab mengutus pasukan untuk

berperang melawan Romawi, dan di antara pasukan tersebut ada Abdullah bin Hudzafah.

Maka berangkatlah bala tentara kaum muslimin, mereka menghiasi diri dengan iman yang benar,

akidah yang kokoh dan kerelaan mengorbankan nyawa di jalan Allah dan RasulNya.

Singkat kisah, setelah selesai perang, sebagian kaum muslimin ditawan oleh tentara Romawi, hal

itu juga atas perintah Raja Heraklius yang sebelumnya dia memerintahkan tentaranya agar

pasukan kaum muslimin ditangkap hidup-hidup, karena raja ingin bertemu dengan mereka. Maka

Allah mentakdirkan Abdullah bin Hudzafah jatuh sebagai tawanan Romawi, mereka

membawanya kepada Kaisar, dan salah satu pasukan Romawi berkata, "Orang ini termasuk

orang-orang pertama dari sahabat Muhammad yang masuk ke dalam agamanya, kami

menawannya dan membawanya kepadamu."

Raja Romawi melihat Abdullah bin Hudzafah dengan teliti, kemudian dia berkata, "Aku

menawarkan sesuatu kepadamu." Abdullah bertanya, "Apa itu?"

Heraklius menjawab "Masuklah ke dalam agama Nasrani, jika kamu berkenan maka aku akan

membebaskanmu dan memberimu kedudukan terhormat." lalu Abdullah berkata, "Mana

mungkin? Kematian seribu kali lebih aku sukai daripada memenuhi ajakanmu itu."

Kaisar Heraklius berkata, "Aku melihatmu sebagai laki-laki pemberani, jika kamu menerima

tawaranku maka aku akan membagi kekuasaan denganmu dan kita sama-sama memerintah dan

menguasainya."

Abdullah yang sedang terikat tambang itu tersenyum dan berkata, "Demi Allah, seandainya

kamu menyerahkan seluruh apa yang kamu miliki dan segala apa yang dimiliki oleh orang-orang

Arab dengan syarat aku meninggalkan agama Muhammad sekejap pun niscaya aku tidak akan

melakukannya."

Kaisar berkata," Kalau begitu aku akan membunuhmu."

Abdullah menjawab, "Lakukan apa yang engkau inginkan."

Kemudian tangan Abdullah bin Hudzafah diikat di tiang salib dan Kaisar berkata kepada

pengawalnya dengan bahasa Romawi,

"Lepaskanlah anak panah di dekat kedua tangannya." Semantara Kaisar tetap menawarkan

kepadanya agar masuk ke agamanya namun Abdullah tetap menolak.

Setelah beberapa kali menolak ajakan sang Raja, maka sang raja mencari jalan lain untuk

menguji keimanannya kepada Abdullah bin Hudzafah. Pada saat itu Kaisar memerintahkan

pengawalnya dari tiang salib, kemudian ia meminta agar sebuah bejana besar disiapkan, lalu diisi

dengan minyak, bejana itu diangkat ke atas tungku api sampai minyak itu mendidih, lalu Kaisar

meminta dua orang tawanan dari kaum muslimin untuk dihadirkan, lalu Kaisar memerintahkan

agar salah seorang dari keduanya dilemparkan ke dalam bejana mendidih tersebut, sehingga

terkelupas dan tulangnya terlihat telanjang.

Di saat itu Kaisar menoleh kepada Abdullah bin Hudzafah dan kembali mengajaknya masuk

Nasrani, tetapi lagi-lagi Abdullah justru menolak lebih keras daripada sebelumnya. Tatkala

Kaisar berputus asa darinya, dia memerintahkan pengawalnya agar melemparkan Abdullah ke

dalam bejana seperti kedua rekannya, di kala pengawal membawa Abdullah, dia mulai

menangis sehingga nampak para pengawal itu berkata kepada raja mereka, "Dia menangis."

Kaisar pun menyangka bahwa Abdullah telah dibayang-bayangi ketakutan, dia berkata,

"Kembalikan dia kepadaku." Ketika Abdullah berdiri di hadapan Kaisar, Kaisar kembali

mengulangi tawarannya agar masuk ke dalam agama Nasrani, namun ternyata Abdullah bin

Hudzafah kembali menolak.

Kaisar menghardik, "Celaka kamu, apa yang membuatmu menangis?"

Abdullah menjawab, "Dan melepaskan seluruh tawanan kaum muslimin?"

Abdullah menjawab, "Yang membuatku menangis adalah bahwa aku berkata kepada diriku, 'Aku

sangat ingin mempunyai nyawa sebanyak jumlah rambut yang ada di tubuhku, lalu semuanya

dilemparkan ke dalam bejana itu fii sabilillah."

Akhirnya Kaisar menyerah dan berkata, "Apakah kamu mau mencium kepalaku dan aku akan

membebaskanmu?"

Abdullah berkata dalam hati, "Musuh Allah, aku akan mencium keningnya, lalu aku bebas

demikian juga seluruh tawanan kaum muslimin, tidak mengapa aku melakukan itu."

Kemudian Abdullah bin Hudzafah mendekat dan mencium kepalanya, maka Kaisar raja Romawi

memerintahkan agar seluruh tawanan kaum muslimin dikumpulkan dan diserahkan kepada

Abdullah bin Hudzafah.Sekembalinya ke kota Madinah, Abdullah bin Hudzafah datang kepada

Umar bin Khattab, dia menceritakan kisahnya, maka Umar sangat berbahagia karenanya, Umar

melihat kepada para tawanan, maka dia berkata, "Patut bagi setiap muslim untuk mencium

kepala Abdullah bin Hudzafah, aku yang pertama kali akan mengawalinya." Maka Umar bin

Khattab berdiri dan mencium kepalanya.

Subhanaallah, betapa mulianya sahabat Abdullah bin Hudzafah, di tengah-tengah nasibnya yang

akan mati bahkan dengan cara yang tidak biasa. Beliau justru semakin yakin akan Islam dan

kokoh di atas keimanan. Baiklah sekian kisah Abdullah bin Hudzafah pembebas tawanan

muslimin.

Ditulis oleh admin.

Referensi: Shuwaru min Hayatis Shahabah (Mereka Adalah Para Sahabat Penulis DR.

Abdurrahman Ra’fat Basya Penerbit At-Tibyan).

Tag Hafalan

  1. Dia adalah Ibnu Qois, Abu Hudzahaf as-Sahmi.

  2. Abdullah bin Hudzafah termasuk sahabat yang pertama masuk Islam (as sabiqunal

    awwalun).

  3. Abdullah bin Hudzafah adalah utusan Rasulullah kepada raja Persia dan tawanan raja

    Romawi.

4. Abdullah bin Hudzafah bertemu dengan raja Kisra pada tahun ke 6 hijriyah dan bertemu dengan raja Romawi pada zaman khalifah Umar bin Khattab yakni tahun ke 19 hijriyah.


Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin