Kisah Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari

 


Kisah Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari Karunianya dan Keberaniannya Sampai Membawanya di Benteng Konstatinopel

Sahabat yang mulia ini bernama Khalid bin Zaid bin Kulaib dari Bani Najjar, kunyahnya adalah

Abu Ayyub Al-Anshari.

Siapa yang tidak mengenal Abu Ayyub?

Kisah sahabat Abu Ayyub ini sudah banyak dikenal oleh kalangan kaum muslimin terutama

dalam kisah beliau yang di Konstatinopel. Namun, masih banyak lagi keistimewaan beliau yang

belum diketahui orang-orang pada umumnya. Sebaiknya, mari kita baca bersama-sama kisah di

bawah ini.

Abu Ayyub adalah sahabat yang Allah angkat derajatnya di tengah-tengah kaum muslimin. Allah

telah memilih rumahnya sebagai tempat tinggal Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam ketika

beliau tiba di Madinah sebagai Muhajir (Orang yang berhijrah).

Sebelum sampai Madinah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tinggal di Quba’ dan

membangun masjid pertama kali di sana, beliau tinggal di sana selama 14 hari. Kemudian beliau

melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Quba’ dengan mengendarai unta.

Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tiba di Madinah para penduduk menyambut beliau

dengan penuh suka cita, mata mereka berbinar penuh dengan kebahagiaan, sedangkan para

pemuka Madinah berdiri di depan unta sambil berjalan serta berharap supaya Rasulullah

Shalallahu alaihi wassalam mau tinggal di rumahnya sementara waktu.

Mereka pun langsung membuka pintu-pintu rumahnya dan Masing-masing mereka berkata

kepada Rasulullah, "Wahai Rasulullah singgahlah di rumah kami, kami mempunyai kekuatan

yang bisa melindungi Engkau."

Maka Rasulullah bersabda, "Biarkanlah unta ini berjalan karena dia mengikuti perintah." Unta

Nabi pun terus berjalan dan melewati rumah para penduduk, ketika rumah mereka terlewati unta

Nabi, mereka merasa sedih.

Namun yang sudah dilewati tetap mengikuti untanya, karna mereka ingin mengetahui rumah

siapakah yang akan di singgahi unta nabi dan siapa yang akan meraih karunia yang besar.

Sedangkan penghuni rumah yang belum dilewati merasa cemas apakah unta Rasulullah

Shalallahu alaihi wassalam akan berhenti di rumah nya atau tidak. Maka Unta Rasulullah

Shalallahu alaihi wassalam terus berjalan.

Hingga sampailah unta itu berhenti di sebuah halaman kosong milik Abu Ayyub Al-Anshari, ia

sangat bahagia sekali, karna rumahnya dipercayai oleh Allah ta’ala untuk menjaga manusia

terbaik di muka bumi ini. Tanpa pikir panjang Abu Ayyub langsung keluar rumah dan

membawakan keperluan Nabi Shalallahu alaihi wassalam serta mempersilakan beliau untuk

memasuki rumahnya.

Kebetulan rumahnya Abu Ayyub ada 2 lantai, dan Abu Ayyub menginginkan Nabi Shalallahu

alaihi wassalam tinggal di lantai 2.

Setelah lantai 2 dikosongkan dan dibersihkan, Abu Ayyub mempersilahkan Rasulullah

Shalallahu alaihi wassalam untuk tinggal di sana, namun ternyata Rasulullah lebih memilih lantai

bawah, maka Abu Ayyub menuruti kemauan Nabi dan membiarkan beliau tinggal sesukanya.

Malampun tiba, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam beranjak ke tempat tidur beliau, Abu

Ayyub dan istrinya naik ke lantai atas, ketika Abu Ayyub hendak menutup pintu ia berkata

kepada istrinya:

"Celaka kita, apa yang kita lakukan? Pantaskah Rasulullah di bawah sedangkan kita

diatas?apakah kita patut berjalan diatas Rasulullah? Apakah kita berada di antara Nabi dengan

wahyu? Kalau begini niscaya kita binasa."

Abu Ayyub merasa keberatan sekali jika dia dan istrinya harus tidur di lantai 2, dengan alasan

dia tidak ingin berjalan di atas Rasulullah dan Wahyu. Maka Abu Ayyub dan istrinya diam

kebingungan tidak tahu harus bagaimana.

Sampai pada akhirnya Abu Ayyub memiliki cara supaya dia tidak berjalan di bawahnya, dengan

cara menepi di sisi lain dimana Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam tidak berada dibawahnya,

dan menjauhi bagian tengah. Meskipun demikian, tidak benar-benar membuat hati Abu Ayyub

al-Anshari merasa tenang, bahkan dia dan istrinya tidak bisa tidur semalaman.

Pada pagi hari Abu Ayyub berkata kepada Nabi, "Demi Allah ya Rasulullah, semalam kami

tidak bisa tidur."

Nabi pun bertanya, "Mengapa?"

Abu Ayyub menjawab, "Aku teringat bahwa aku berada di atas rumah di mana Engkau berada di

bawahnya, jika aku bergerak maka debu-debu akan berjatuhan menimpamu, di samping itu aku

berada di antara dirimu dan wahyu."

Maka Nabi bersabda: "Jangan dipikirkan wahai Abu Ayyub, aku akan tetap di bawah, karena

banyaknya orang-orang yang hendak menemuiku." Maka Abu Ayyub pun menuruti permintaan

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalm.

Pada malam berikutnya, tiba-tiba saja gentong air milik Abu Ayyub yang berada di lantai atas

pecah, sehingga airnya tumpah, Abu Ayyub merasa khawatir jika air itu akan menetes kebawah,

dan mengenai Nabi Shalallahu alaihi wasalam.

Sehingga Abu Ayyub langsung mengambil selimutnya dan ia gunakan selimut satu-satunya

tersebut untuk membersihkan air supaya tidak menetes ke lantai bawah. Esok harinya Abu

Ayyub menemui Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan berkata kedua kalinya:

"Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu ya Rasulullah, aku tetap tidak suka berada di

atasmu dan engkau berada di bawahku."

Kemudian Abu Ayyub juga menceritakan tentang pecahnya gentong yang mana airnya

dibersihkan dengan menggunakan selimut milik Abu Ayyub satu-satunya. Akhirnya Nabi

menyanggupi untuk pindah ke lantai atas, dan Abu Ayyub serta istrinya pindah di lantai bawah.

Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub selama 7 bulan, dan Nabi berpindah tempat ketika sudah

selesai pembangunan masjid di tanah kosong (halaman rumah Abu Ayyub) di mana unta Nabi

berhenti di sana. Beliau pindah ke kamar-kamar yang dibangun di sekitar masjid untuk beliau

dan istri-istri beliau.

Namun Baginda Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam tetap menjadi tetangga Abu

Ayyub. Abu Ayyub sangat mencintai Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, begitu juga

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, beliau sangat mencintai Abu Ayyub dan keluarganya,

Beliau Shalallahu alaihi wassalam sudah menganggap Abu Ayyub al-Anshari dan keluarganya

adalah seperti keluarga sendiri.

Kebiasaan Abu Ayyub Memberikan Makanan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wassalam

hari?"

Abu Bakar menjawab, "Rasa lapar yang melilit perutku"

Abu Ayyub biasa menyimpan makanan untuk Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, jika

Rasulullah datang ke rumahnya ia memberikan makanan itu kepadanya, jika beliau tidak datang

maka makanan itu dimakan sendiri oleh keluarga Abu Ayyub.

Suatu ketika, Abu Bakar keluar rumah di siang hari, dia bertemu dengan Umar bin Khattab dan

Umar bertanya kepada Abu Bakar, "Wahai Abu Bakar, apa yang membuatmu keluar pada siang

"Sama, aku tidak keluar kecuali rasa lapar yang melilit perutku" Umar melanjutkan perkataanya

Ketika Abu Bakar dan Umar dalam keadaan lapar, Nabi keluar dan menemui mereka berdua,

"Apa yang membuat kalian keluar di saat-saat seperti ini?" tanya nabi

Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak keluar kecuali rasa lapar yang melilit perutku ya

Rasulallah"

Maka Nabi Muhammad bersabda, "Demi dzat yang jiwaku ada di tanganNya, Aku tidak keluar

kecuali karna itu pula, Bangkitlah bersamaku"

Maka mereka berangkat dan mendatangi rumah Abu Ayyub. Tatkala mereka sudah mendekati

pintu rumah Abu Ayyub, keluarlah istri Abu Ayyub dan menyambut mereka, dia berkata

"Selamat datang kepada Nabi dan orang-orang yang bersamanya."

Rasulullah bertanya, "Di mana Abu Ayyub?"

Saat Rasulullah bertanya, Abu Ayyub sedang berada di kebun yang tidak jauh dari rumahnya,

namun saat mendengar suara Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, dia langsung bergegas

datang dan berkata, "Selamat datang kepada Rasulullah dan orang-orang yang bersamanya,

Wahai Nabiyyullah, ini bukan waktu di mana Engkau biasa datang."

Nabi menjawab, "Kamu benar."

Nabi bersabda, "Aku tidak ingin kamu memotongnya, mengapa kamu tidak memetik buahnya

saja?"

Rasulullah bersabda, "Jangan menyembelih hewan perahan."

Lalu Abu Ayyub pergi ke sebuah pohon kurma dan memotong salah satu jenjang yang berisikan

kurma segar, yang sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan).

Abu Ayyub menjawab, "Ya Rasulullah, aku ingin engkau memakan buahnya, kurma segar yang

sudah matang dan kurma setengah matang (yang sudah enak dimakan), aku juga akan

menyembelih kambing untukmu."

Maka Abu Ayyub pun menyembelih kambing muda dan berkata pada istrinya, "Buatlah adonan

roti untuk tamu kita, kamu lebih tahu bagaimana cara membuatnya."

Setelah Abu Ayyub selesai menyembelih kambing, ia mengambil setengahnya untuk dimasak

dan setengah lagi untuk dipanggang. Setelah semuanya matang, Abu Ayyub menyuguhkan

makanan tersebut kepada Rasulullah dan kedua sahabatnya Abu Bakar dan Umar.

Nabi pun mengambil sepotong daging dan meletakkannya diatas roti, beliau bersabda, "Wahai

Abu Ayyub, berikanlah ini dengan segera kepada Fathimah, karena dia tidak pernah makan

seperti ini beberapa hari lamanya."

Setelah mereka semua selesai makan Nabi bersabda, "Roti, daging, kurma segar, dan kurma

setengah matang."

Tiba-tiba beliau meneteskan air mata sembari bersabda:

"Demi dzat dan jiwaku ada ditanganNya, sesungguhnya ini adalah kenikmatan dimana kalian akan ditanya tentangnya dihari kiamat. Jika kalian mendapatkan seperti ini lalu kalian hendak menyantapnya maka ucapkanlah, ‘Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.’ Jika kalian sudah kenyang maka ucapkanlah, ‘Segala puji bagi Allah yang telah membuat kami kenyang dan memberikan nikmat dengan melimpah."

Sahabat Abana, Mengapa Nabi ingin Abu Ayyub datang ke rumahnya?

Setelah selesai makan, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bangkit seraya bersabda, "Wahai

Abu Ayyub, datanglah kepadaku besok." Akan tetapi Abu Ayyub tidak mendengar sabda

Rasulullah tersebut, maka Umar berkata kepadanya, "Rasulullah memintamu untuk datang

kepada beliau besok."

Karna Nabi tidak pernah diberi sebuah kebaikan oleh seseorang kecuali beliau ingin

membalasnya, maka dari itu beliau meminta Abu Ayyub untuk datang kepada Rasulullah esok

harinya. Besoknya Abu Ayyub datang ke rumah Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, maka

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam memberinya budak kecil yang biasa membantu

Rasulullah.

Lalu Nabi bersabda kepadanya, "Berbaik-baiklah kepadanya wahai Abu Ayyub, kami tidak

melihat darinya kecuali kebaikan selama dia bersama kami." Setelah menerima budak pemberian

nabi, Abu Ayyub pulang ke rumah dengan membawa budak tersebut, hadiah dari Rasulullah

Shalallahu alaihi wassalam.

Tatkala Ummu Ayyub melihatnya, ia berkata, "Milik siapa budak ini?"
Abu Ayyub menjawab, "Milik kita, hadiah dari Rasulullah untuk kita."
Istrinya berkata, "Hadiah yang sangat berharga dan pemberian yang sangat mulia." Abu Ayyub berkata, "Rasulullah memintaku untuk berbuat baik kepadanya."

Sungguh Abu Ayyub telah dibimbing kepada kebenaran dan telah diberi taufik.

Ummu Ayyub bertanya, "Apa yang akan Engkau lakukan sehingga Engkau bisa melaksanakan

permintaan Nabi?"

"Demi Allah tidak ada cara yang lebih baik untuk melaksanakan wasiat Rasulullah selain

memerdekakannya." Jawab Abu Ayyub.

Kisah Abu Ayyub Al-Anshari di Medan Perang dan Perjalanan Akhir di Konstatinopel

Abu Ayyub tidak pernah tertinggal satu perang pun sejak zaman Rasulullah sampai zaman

Mu’awiyah kecuali jika dia mempunyai kesibukan yang lainnya secara syar’i. Beliau adalah

orang yang pemberani dalam berperang, pahlawan kaum muslimin.

Perang terakhir yang diikuti Abu Ayyub adalah saat Mu’awiyah menyiapkan pasukan dibawah

panji-panji anaknya, Yazid bin Mu’awiyah untuk menaklukkan konstatinopel. Saat itu beliau

usianya sudah lanjut, yakni kurang lebih 80 tahun.

Namun ketika peperangan akan dimulai, Abu Ayyub sakit dan tidak kuat lagi melanjutkan

perang. Maka Yazid mendatanginya dan bertanya, "Apakah Engkau mempunyai suatu

permintaan wahai Abu Ayyub?"

Abu Ayyub menjawab, "Sampaikan salamku kepada bala tentara muslimin dan katakan kepada

mereka bahwa aku berwasiat agar kalian masuk ke bumi musuh sejauh mungkin sambil

membawa jasadku bersama kalian lalu menguburkanku dibawah telapak kaki kalian dipagar kota

Konstatinopel."

Setelah berwasiat seperti itu, lalu Abu Ayyub menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 52

H.

Pasukan kaum Muslimin melakukan wasiat Abu Ayyub, mereka berperang sambil membawa

jasad Abu Ayyub hingga sampailah mereka di benteng kota Konstatinopel, di sana mereka

menggali tanah dan menguburkan jasad Abu Ayyub.

Semoga Allah merahmatinya, Abu Ayyub Al-Anshari seorang sahabat yang menolak wafat

kecuali diatas punggung kuda yang kuat sebagai seorang mujahid di jalan Allah dalam usia

kurang lebih delapan puluh tahun.

Demikianlah Kisah Sahabat Abu Ayyub Al-Anshari, Karunianya dan Keberaniannya Sampai

Membawanya di Benteng Konstatinopel

Tag Hafalan :

  1. Nama sahabat yang dikisahkan adalah Khalid bin Zaid bin Kulaib Al-Anshari

  2. Kunyahnya adalah Abu Ayyub Al-Anshari

  3. Abu Ayyub berasal dari Bani Najjar

  4. Saat tiba di Madinah, unta Rasulullah menderum di halaman rumah Abu Ayyub

  1. Allah memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat tinggal sementara Rasulullah saat hijrah dimadinah

  2. Rasulullah tinggal di rumah Abu Ayyub selama 7 bulan

  1. Abu Ayyub selalu menyimpan makanan untuk Rasulullah

  2. Rasulullah memberi hadiah kepada Abu Ayyub seorang budak kecil yang kemudian

    dimerdekakan oleh Abu Ayyub sendiri.

  3. Abu Ayyub tidak pernah tertinggal dalam peperangan sejak zaman Rasulullah sampai

    zaman Muawiyah kecuali saat ada udzur Syar’i

  4. Abu Ayyub wafat diusia kurang lebih 80 tahun

  5. Abu Ayyub wafat saat dimulainya perang yang dipimpin oleh Yazid bin Muawiyah

    dalam penaklukan Konstatinopel

  6. Abu Ayyub dikubur di bawah pagar kota Konstatinopel 52 H

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin