Kisah Sahabat Nabi Abu Thalhah Al-Anshari dan Keistimewaannya

 


Kisah Sahabat Nabi Abu Thalhah Al-Anshari dan Keistimewaannya

Abu Thalhah menghabiskan umurnya untuk berpuasa dan berjihad, dia wafat dalam keadaan berpuasa dan berjihad

Kalimat di atas memang pantas disandarkan kepada sahabat Nabi yang bernama Abu Thalhah al-

Anshari. Siapa Abu Thalhah al-Anshari?

Dia adalah sahabat yang memiliki banyak keistimewaan. Namun, karna tingginya tingkat

kemalasan masyarakat muslim dalam membaca perjalanan hidup sahabat Radiyallahuanhum,

menjadikan namanya jarang didengar oleh telinga manusia zaman sekarang.

Latar Belakang Abu Thalhah

Dia adalah Zaid bin Sahal an-Najjari yang sering dipanggil dengan nama kun-yah nya yaitu Abu

Thalhah al-Anshari. Beliau hidup di Yatsrib yang sekarang dikenal dengan Madinah kota Nabi.

Di sana Abu Thalhah adalah seorang laki-laki dengan segala kesempurnaannya, memiliki

kedudukan terhormat dan kekayaan yang melimpah. Karna kekayaannya, dia sanggup membeli

berhala dari kayu yang sangat mahal, berhala tersebut ia sembah dan ia jaga supaya tidak kotor

atau terjadi hal yang tidak diinginkannya.

Selain itu dia juga salah satu pasukan berkuda dari Bani Najjar dan menjadi pemanah ulung bumi

Yatsrib (Madinah).

Kisah Abu Thalhah Menerima Hidayah Islam Melalui Ummu Sulaim

Ketika datang kebenaran maka lenyaplah kebatilan. Hidayah akan datang bagi siapa yang

dihendakiNya. Kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim ini sangat menarik. Namun kita harus tahu

dulu siapa Ummu Sulaim itu.

Nama aslinya yaitu ar-Rumaisho binti Milhan. Dalam buku lain ditulis al-Gumaisha binti

Milhan. Saat dia masuk Islam, suaminya (Malik) marah. Lalu suaminya pergi ke Syam

Ghumaisha atau ar-Rumaisha adalah Ibu Anas bin Malik al-Anshari (silahkan baca kisah Anas

bin Malik). Seorang wanita terhormat, cerdas, berakal pintar dan memiliki wajah yang cantik

serta bersifat sempurna.

Nah, begitulah latar belakang Ummu Sulaim. Lantas apa yang membuat Abu Thalhah masuk

Islam karna Tangannya??

Kisah ini dimulai saat Ummu Sulaim menjanda setelah kematian suaminya saat ke Syam. Abu

Thalhah mengetahui Ummu Sulaim menjanda, ia merasa sangat bahagia. Ia ingin segera

melamar Ummu Sulaim sebelum ada laki-laki lain yang melamarnya. Eh, Antum yang belum

nikah, kapan lamarannya?

Abu Thalhah sangat percaya diri bahkan ia sangat yakin kalau Ummu Sulaim tidak akan memilih

laki-laki lain selain dirinya. Hal itu tidaklah aneh, karena Abu Thalhah sendiri adalah seorang

laki-laki terhormat, kaya raya.

Setelah tekad Abu Thalhah sudah meluap ingin melamarnya, ia pun berangkat ke rumah Ummu

Sulaim. Ketika di tengah jalan ia teringat bahwa Ummu Sulaim telah beriman dan menjadi

pengikut Nabi Muhammad melalui tangan Mush'ab bin Umair.

Sedikit catatan:

Mush'ab bin Umair adalah sahabat Nabi angkatan pertama dalam Islam. Orang yang pertama kali berdakwah di luar Makkah. Dia pergi ke Madinah untuk berdakwah sehingga Ummu Sulaim

masuk Islam melalui tangannya. Beliau syahid di perang Uhud. Semoga Allah memberikan kedudukan yang tinggi di Akhirat.

Setelah memikirkan hal itu, dia tidak langsung putus asa, karna hal itu tidak membuat Abu

Thalhah mundur, ia bahkan berkata pada dirinya sendiri:

"Apa urusannya kalau dia sudah beriman? Bahkan suaminya yang sudah meninggal, dia masih

setia dengan agama nenek moyangnya (masih kafir) dan menjauhi dakwah Nabi Muhammad?"

Akhirnya Abu Thalhah melanjutkan perjalanan. Setiba di rumah Ummu Sulaim, dia meminta

izin untuk masuk rumahnya, dan Ummu Sulaim mengizinkannya.

Saat itu anak Ummu Sulaim Anas bin Malik juga ada di sana. setelah masuk, Abu Thalhah

melamar Ummi Sulaim. Setelah mendengar lamarannya ia berkata:

"Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tidak pantas untuk ditolak, namun aku tidak akan

menikah denganmu karena kamu laki-laki kafir."

Abu Thalhah mengira bahwa jawaban Ummu Sulaim itu hanya sekedar alasan. Dia mengira

Ummu Sulaim sudah mempunyai pilihan laki-laki lain yang berkedudukan tinggi dan lebih

terhormat.

Maka Abu Thalhah bertanya kepadanya, "Apa yang menghalangimu untuk menerima lamaranku

wahai Ummu Sulaim?"

Ummu Sulaim balik bertanya, "Apa yang menghalangiku sehingga aku harus menerimamu?" Abu Thalhah berkata, "Emas dan perak."
"Emas dan perak?" kata Ummu Sulaim dengan heran.
Abu Thalhah menjawab, "Benar."

Ummu Sulaim berkata:

"Sesungguhnya aku menjadikanmu saksi wahai Abu Thalhah, aku menjadikan Allah dan

RasulNya sebagai saksi bahwa seandainya Engkau masuk Islam maka aku akan menerimamu

sebagai suamiku tanpa emas dan perak, keislamanmu cukup sebagai maharku."

Mendengar kata-kata Ummu Sulaim, Abu Thalhah langsung teringat dengan patung yang ia buat

dari kayu yang sangat mahal, patung yang ia muliakan dan ia sembah setiap hari. Ummu Sulaim

melanjutkan perkataannya:

"Bukankah kamu mengetahui wahai Abu Thalhah bahwa tuhan yang kamu sembah selain Allah

itu hanyalah kayu yang tumbuh dari bumi?"

Abu Thalhah menjawab, "Benar."

Ummu Sulaim berkata:

Abu Thalhah bertanya: "Siapa yang membimbingku kepada Islam?" "Aku bisa membantumu." Jawab Ummu Sulaim
Abu Thalhah bertanya lagi: "Bagaimana?"
Ummu Sulaim menjawab :

"Apakah kamu tidak merasa malu tatkala kamu menyembah sepotong kayu dan kamu

menjadikannya tuhan sedangkan orang banyak menjadikannya sebagai kayu bakar, dengannya

dia menyalakan api atau memasak rotinya. Sesungguhnya jika kamu masuk Islam wahai Abu

Thalhah maka aku menerimamu sebagai suami dan aku tidak berharap mahar apapun selain

keislamanmu."

"Ucapkan kalimatul Haq, kamu bersaksi bahwa tidak ada Ilah yang berhak untuk disembah

selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kemudian pulanglah dan hancurkan

berhalamu lalu buanglah ia."

Mendengar jawabannya, wajah Abu Thalhah langsung berubah berseri-seri, lalu dia menyatakan

syahadat dan masuk Islam melalui Ummu Sulaim. Dia kembali ke rumah dan menghancurkan

berhalanya yang mahal tanpa ragu-ragu.

Setelah masuk Islam Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim. Sehingga kaum muslimin

mengatakan:

"Kami tidak mendengar mahar yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim, dia menjadikan

Islam sebagai maharnya."

Sejak hari itu lah Abu Thalhah bergabung di bawah panji-panji Rasulullah. Dia adalah salah satu

dari tujuh puluh orang Yastrib yang membaiat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam di Aqabah

bersama istrinya, Ummu Sulaim.

Abu Thalhah juga salah satu dari dua belas orang penanggung jawab kota Yatsrib di mana

Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam menyerahkan pada kaum Muslimin di malam tersebut.

Abu Thalhah mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah dan di dalam peperangan

tersebut ia selalu menunjukkan pengorbanan dan kepahlawanannya. Berikut kisah-kisah

peperangan yang dialami Abu Thalhah:

Kisah Pengorbanan Abu Thalhah di Perang Uhud

Abu Thalhah sangat mencintai Rasulullah melebihi cintanya pada dirinya sendiri. bahkan dia

tidak puas hanya sekedar bisa melihat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan mendengarkan

sabda-sabda beliau.

Dia ingin memiliki peran yang lebih di hadapan Nabi, salah satu peran besarnya adalah ketika

terjadi perang Uhud, dimana kaum muslimin berlari meninggalkan Rasulullah Shalallahu alaihi

wassalam.

Ketika itu orang kafir bisa mendekati beliau dari segala penjuru, mereka dengan mudah

mematahkan gigi Rasulullah, melukai tubuh Rasulullah hingga darah mengalir dari tubuh

mulianya.

Sampai-sampai orang-orang memberikan kabar burung bahwa Rasulullah Shalallahu alaihi

wassalam telah wafat, hal ini membuat semangat kaum muslimin semakin turun sehingga

sebagian dari mereka melarikan diri. Pada saat itu yang masih bertahan berdiri tegak di depan

kaum musyrikin hanya beberapa orang saja, di antara mereka adalah Abu Thalhah al-Anshari.

Abu Thalhah berdiri di depan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam bermaksud melindungi

Nabi dari panah-panah kaum musyrikin. Seakan-akan Abu Thalhah menjadi perisai bagi

Rasulullah. Sehingga jika panah kaum musyrikin menuju kepada Rasulullah, maka leher Abu

Thalhah lah yang akan melindunginya.

Kemudian Abu Thalhah menyiapkan busurnya yang tidak terkalahkan. Memanah pasukan

musuh satu persatu. Lalu Nabi melongok dari balik tubuh Abu Thalhah untuk melihat sasaran

anak panahnya.

Maka Abu Thalhah berkata:

"Aku korbankan bapak dan ibuku demi dirimu, jangan melongok karena panah mereka bisa

mengenai dirimu. Wahai Rasulullah leherku sebagai tameng bagi lehermu dan dadaku sebagai

perisai bagi dadamu, aku korbankan diriku demi dirimu.”

Abu Thalhah terus membela Rasulullah hingga ia berhasil membunuh beberapa orang kafir

dalam jumlah yang Allah kehendaki. Kemudian peperanganpun selesai, Rasulullah Shalallahu

alaihi wassalam dan Abu Thalhah Radiyallahuanhu selamat dengan perlindungan dari Allah.

Kedermawanan Abu Thalhah al-Anshari

Abu Thalhah mempunyai kebun kurma dan anggur, kebunnya memiliki pohon yang banyak,

buahnya bagus-bagus dan air yang ada di sekitarnya juga sangat jernih.

Tatkala Abu Thalhah sedang shalat di bawah pohon yang rindang, tiba-tiba ada burung kecil

yang sedang berkicau. Sehingga membuat Abu Thalhah ikut terbawa suasana dengan burung

tersebut dan lalai bahwa dirinya sedang shalat, sampai-sampai ia lupa sudah berapa rakaat dia

shalat.

Selesai shalat, Abu Thalhah langsung berangkat untuk menemui Rasulullah, dia menceritakan

tentang dirinya yang lalai saat shalat karena terbawa suasana kicauan burung yang ada di

kebunnya. Kemudian Abu Thalhah berkata kepada Nabi:

"Saksikanlah wahai Rasulullah, bahwa aku telah menjadikan kebunku tersebut sebagai sedekah

di jalan Allah, letakkan ia di mana Allah dan RasulNya mencintainya."

Masyaallah, karna seekor burung kecil yang membuatnya lalai terhadap Akhirat. Dia rela

membuang sebagian nikmat dunianya.

Seperti apa ibadah Abu Thalhah?

Abu Thalhah menghabiskan hidupnya untuk berpuasa dan berjihad.

Sehingga dia banyak disebut sebagai sahabat yang rajin berpuasa dan berjihad. Kisah Wafatnya Abu Thalhah al-Anshari

Allah.

Anak-anak Abu Thalhah berkata:

Abu Thalhah menjawab, "Sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 41.

(ayat)

Di riwayatkan darinya bahwa Abu Thalhah di beri umur yang panjang, ia hidup selama tiga

puluh tahun setelah Rasulullah wafat. Dia menghabiskan semasa hidupnya itu untuk berpuasa di

mana dia tidak berbuka kecuali di hari Raya atau hari-hari yang haram hukumnya untuk

berpuasa.

Di zaman khalifah Utsman bin Affan, kaum muslimin bertekad untuk berperang di laut lepas. Di

sana ada Abu Thalhah yang segera menyiapkan diri untuk mengikuti peperangan tersebut. saat

itu usianya sudah sangat tua, namun bagi nya usia bukan penghalang untuk tetap berjihad di jalan

"Semoga Allah merahmatimu wahai ayahanda, engkau sudah tua, engkaupun sudah berperang

bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar, mengapa engkau tidak istirahat, biarkanlah kami

yang berangkat mewakilimu."

"Berangkatlah baik dalam keadaan berat maupun dalam keadaan ringan, Allah telah meminta

kita semua untuk berangkat, baik tua maupun muda, Allah tidak menetapkan usia atas kita." Abu

Thalhah pun tetap berangkat ke medan perang dan menolak permintaan anaknya.

Ketika di tengah lautan, Abu Thalhah jatuh sakit keras sehingga ia meninggal karenanya. Ia

meninggal pada tahun sekitar 50 H.

Kaum Muslimin yang berada bersamanya berusaha mencari sebuah pulau untuk memakamkan

jasad Abu Thalhah, namun mereka baru menemukan pulau setelah mencari nya selama 7 hari.

Selama itu jasad Abu Thalhah terbujur berselimut kain tanpa berubah sedikit pun seolah-olah dia

sedang tidur.

Penulis: Admin Referensi:

Di tengah lautan Ia di makamkan jauh dari keluarganya, jauh dari kabilah namun hal itu tidaklah

masalah selagi ia dekat dengan Allah.

Demikianlah Kisah Sahabat Nabi Abu Thalhah Al-Anshari dan Keistimewaannya

Semoga bisa bermanfaat buat dirikita dan keturunan kita Amiin.. jangan lupa baca Tag Hafalan

dan RPA.

  • Shuwaru Min Hayatis Shahabah Dr.Khalid Ra'fat Basya

  • Tarjamamah Rawi min Syarh Undatul Ahkam Syaikh Solih Al-Utsaimin No Hadits:13

    H:162

Tag Hafalan

1. sahabat yang dikisahkan bernama Zaid bin Sahal an-Najjari.

  1. Ia biasa dipanggil dengan kunyah, Abu Thalhah.

  2. Abu Thalhah hidup dan berkembang di Yatsrib (Madinah).

  3. Beliau seorang laki-laki yang kaya raya dan memiliki kedudukan yang terhormat.

  4. Ia mendapat hidayah Islam melalui Sahlah binti Milhan (Ummu Sulaim), mantan istri

    Malik atau ibunda Anas bin Malik.

  5. Ummu Sulaim sendiri masuk Islam melalui Mushab bin Umair.

  6. Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim setelah masuk islam.

  7. Dan beliau termasuk dari tujuh puluh sahabat yang membaiat Rasulullah di Aqabah.

  8. Beliau juga termasuk dari dua belas orang penanggung jawab kota Yatsrib.

  9. Abu Thalhah hidup 30 tahun setelah Rasulullah wafat.

  10. Abu Thalhah wafat pada tahun sekitar 50 H di tengah lautan saat berangkat jihad

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin