Kisah Salman Al Farisi
Kisah Salman Al-Farisi- Ini adalah kisah seorang pemuda jahiliyyah, haus akan hakikat
kebenaran, kepada siapa dia menyembah?kepada siapa dia beribadah? dan harus kepada siapa
dia mengikuti??
Inilah (Kisah Salman Al-Farisi dalam Mencari Kebenaran) yang kami kemas dengan alur cerita
yang sangat mudah dipahami, dan menggunakan bahasa yang ringan. Langsung saja, mari kita
simak bersama-sama.
Perjalanan Salman Al-Farisi dalam mencari kebenaran ini, penuh dengan kejutan yang bisa
membuat kita terkagum dengan kegigihan beliau.
Kisah Salman Al-Farisi dalam Mencari Kebenaran Dimulai dari Kampungnya
Salman Al Farisi terlahir di desa Jayyan, dia adalah pemuda Persia, asli penduduk kota
Ashbahan. Sedangkan ayahnya adalah orang terkaya di desanya, dia orang yang terpandang,
karna kedudukannya sebagai kepala desa. Kehormatan,kedudukan dan kekayaan sudah ia miliki.
Salah satu bentuk kekayaannya adalah kebun. Ya, Ayah Salman memiliki kebun yang sangat
luas, dan hasilnya sangat melimpah. dan Kebun tersebut diurus oleh Ayah Salman sendiri.
Ayahnya sangat mencintai dan menyayangi Salman Al Farisi, bahkan sampai-sampai ayahnya
melarang Salman untuk keluar rumah layaknya seorang wanita yang dipingit. Karna ayahnya
Khawatir terjadi sesuatu kepada Salman Al Farisi jika ia keluar rumah.
Salah satu kekhawatiran ayahnya yaitu, dia takut jika Salman keluar rumah, salman akan
mengenal Agama selain Agama Majusi. lalu apa yang dilakukan salman di dalam rumah?
Salman ditugaskan menjaga Api supaya tidak padam, karna pada masa Jahiliyah, keluarga
Salman Al Farisi beragama Majusi (penyembah api).
Sebagai pemuda, Salman sangat bersungguh-sungguh dalam mempelajari agama Majusi, bahkan
dia yang selalu menyalakan apinya untuk disembah. Namun, keyakinan Salman Al Farisi
terhadap agama ayahnya (Majusi) tidak bertahan lama.
Kisah Salman Al Farisi dalam Mencari Kebenaran
Kisah Salman Al-Farisi dalam mencari kebenaran dimulai saat ayahnya menyuruh ia pergi ke
kebun. lalu seperti apa kisahnya?
Pernah suatu ketika, ayah Salman Al-Farisi sedang sangat sibuk, sehingga membuat ayahnya
tidak bisa pergi ke ladang, maka dia pun menyuruh Salman Al Farisi untuk mengurus ladang
miliknya.
Pagi harinya Salman Al Farisi mulai berangkat ke ladang, namun, saat di tengah perjalanan dia
mendengar suara ibadah dari sebuah Gereja, seketika Salman berhenti sejenak dan
mendengarkan dengan seksama. lalu ia berkata dalam hati:
"Demi Tuhan ini lebih baik dari apa yang kami anut selama ini, demi Tuhan aku tidak
meninggalkan mereka sampai matahari terbenam, aku batalkan rencanaku berangkat ke ladang
ayahku."
lalu Salman Al Farisi mendatangi gereja tersebut kerena rasa penasaran serta rasa takjub
terhadap bentuk ibadah yang mereka lakukan. Setelah mendatangi greja Salman Al Farisi
mencoba memasukinya dan bertanya kepada jamaat gereja, "Dari mana asal usul agama ini?"
Mereka menjawab, "Dari negeri Syam."
Setelah itu, salman duduk sambil memperhatikan cara mereka beribadah, Salaman
memperhatikannya sampai terbenam matahari.
Setelah matahari terbenam, Salman Al Farisi pulang ke rumah, ayahnya melihat Salman dengan
tersenyum dan menyambutnya dengan baik dan bertanya, "Wahai salman, sudahkah engkau
melaksanakan perintah ayahmu, kenapa pakaianmu tidak kotor dan sampai larut malam?"
Salman Al Farisi menjawab:
"Wahai ayah, tadi pagi ketika aku hendak ke ladang, aku melewati sebuah gereja , di dalamnya
ada orang-orang yang sedang beribadah, saya rasa, agama mereka sangat menakjubkan, lalu aku
ke gereja tersebut hingga malam ayah."
Ayahnya sangat terkejut mendengar perkataan Salman Al Farisi, kemudian ayahnya berkata,
"Anakku, agama yang Kau lihat tadi tidak membawamu kepada kebaikan, agamamu dan agama
nenek moyang kita lah yang lebih baik daripada agama mereka." Salman Al Farisi menjawab,
"Tidak mungkin, demi Tuhan agama mereka lebih baik daripada agama kita."
Setelah mendengar jawaban Salman Al Farisi, ayahnya merasa apa yang dikhawatirkan selama
ini sudah mulai terjadi, oleh karna itu, Salman pun dikurung dan kakinya dipasung supaya tidak
bisa pergi kemana-mana.
Namun, Salman Al-Farisi tidak menyerah begitu saja, dia terus mencari kesempatan untuk keluar
dari rumah, meskipun itu sembunyi-sembunyi. Ketika ada kesempatan untuk keluar rumah, ia
langsung pergi menemui orang-orang yang berada di gereja, lalu Salman bertanya:
"Apakah ada di antara kalian yang hendak pergi ke Syam? Bila ada beberapa orang dari kalian
hendak pergi ke Syam maka beritahu aku."
Setelah pergi menemui dan berbicara kepada mereka, Salman kembali ke rumahnya dan
memasang pasung kakinya lagi supaya ayahnya tidak mengetahuinya.
Tidak lama kemudian, orang-orang Nasrani ingin pergi ke Syam, lalu salah satu diantara mereka
memberitahu Salman Al Farisi.
Singkat cerita, setelah mendapat kabar dari salah satu mereka, Salman langsung berdiri penuh
semangat dan berusaha melepaskan diri dari pasungnya, setelah usahanya berhasil ia pun pergi
ke Syam dengan sembunyi-sembunyi agar ayahnya tidak melihatnya. dari sini Salman Al-Farisi
memulai perjalanan mencari kebenaran yang hakiki, yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
Kemudian tibalah Salman Al Farisi di Bumi Syam. setelah singgah di sana, Salman bertanya
kepada salah satu penduduk di sana, "Siapakah orang yang paling penting dan tinggi
kedudukannya dalam agama ini?" Mereka menjawab, "Seorang uskup (seperti pendeta)
penanggung jawab gereja."
|
Salmanpun pergi mencari uskup tersebut, lalu ia bertemu dengan sang uskup, "Aku ingin masuk |
|
agama Nasrani, aku ingin menyertaimu, melayanimu, belajar darimu dan beribadah kepadamu." |
"Masuklah." Jawab sang uskup tersebut.
Setelah itu Salman Al Farisi menjadi pengikut uskup dan beribadah kepadanya serta belajar
darinya. Namun lambat laun Salman Al Farisi mengetahui keburukan dari uskup itu, karena pada
saat itu Salman mengetahui perbuatan uskup yang tercela, dia melihat uskup tersebut menyuruh
masyarakatnya bersedekah. sedekah tersebut yang seharusnya diberikan kepada fakir miskin,
namun uskup tersebut malah menyimapannya sendiri dirumahnya, dan tidak memberikan
sedikitpun kepada fakir miskin.
Nah, dari sinilah Salman sangat membenci uskup itu, tidak lama kemudian si uskup tersebut
menemui ajalnya, dan ketika orang-orang Nasrani hendak menguburnya, Salman Al Farisi
berkata kepada mereka, "Uskup ini bukan orang yang baik, dia menyuruh kalian bersedekah dan
mendorong kalian agar mencari kebaikan, tetapi ketika kalian memberikan harta sedekah
tersebut, uskup tersebut malah menyimpannya sendiri di rumahnya."
Mereka bertanya, "Dari mana kamu tahu hal itu?"
"Kemarilah, aku tunjukkan kekayaannya kepada kalian." Jawab salaman kepada mereka
Sesampainya mereka ke tempat uskup, mereka membongkar isi rumah uskup tersebut dan
ternyata mereka melihat ada tujuh buah gentong yang penuh dengan emas dan perak.
Mereka berkata, "Demi Tuhan, kami tidak akan menguburnya." Pada akhirnya mereka menyalib
Uskup tersebut dan melemparinya dengan batu.
Setalah sekian lama kehilangan uskup, gereja tersebut mendapatkan gantinya yang lebih baik,
uskup ini sangat rajin beribadah, sangat rajin bersedekah dan jujur. Salman sangat mencintai
uskup ini, ia banyak belajar darinya dan sang uskup juga senang dengan semangat dan sikap
Salman Al-Farisi, namun tidak lama kemudian uskup tersebut hampir menemui ajalnya.
Ketika itu, Salman merasa sedih dan berkata kepadanya, "Wahai Uskup, kepada siapakah Kau
menyerahkanku?"
Uskup menjawab, "Anakku, aku tidak mengetahui seseorang yang sama agamanya denganku
kecuali seorang laki-laki di Al-Mushil, dia adalah Fulan (nama samaran), dia tidak mengganti
agama nasrani dan tidak pula menyelewengkannya, maka pergilah kepadanya."
Kemudian wafatlah sang uskup dengan tenang, setelah wafatnya uskup yang baik ini, kisah
perjalanan Salman Al-Farusi dalam mencari kebenaran masih berlanjut. Saat itu ia langsung
pergi menemui seseorang di al-Mushil. sebagaimana yang dikatakan uskup sebelumnya.
Setelah mereka bertemu, Salman berkata kepadanya, "Wahai Fulan, sesungguhnya uskup saya di
Syam mewasiatkan saya di hari menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dan dia
mengatakan kepadaku bahwa Engkau berpegang teguh kepada kebenaran Nasrani."
Maka dia menjawab, "Tinggallah di sini." Salman pun tinggal di sana, salman juga suka dengan
orang ini, ia belajar darinya dan menjadi pengikutnya.
Namun tidak lama kemudian, Fulan tersebut wafat menemui Sang Tuhan, lalu dia juga
mewasiatkan kepada Salman Al-Farisi untuk bertemu kepada seseorang uskup di Nashibin.
Salman Al Farisi akhirnya pergi ke Nashibin dan tinggal bersamanya seperti yang ia lakukan
kepada dua orang sebelumnya.
Namun tidak lama kemudian orang ini juga wafat meninggal dunia, dan sebelum wafatnya dia
juga berwasiat kepada Salman Al Farisi agar bertemu dengan seseorang di Ammuriyah. (ini
adalah wasiat yang ketiga kalinya dari seorang uskup)
Kesungguhan Salman Al-Farisi dalam mencari kebenaran masih berlanjut, dia belum putus asa
dan akan terus ia kejar sampai benar-benar menemuinya.
Lalu Salman pun pergi ke Ammuriyah dan tinggal bersamanya seperti yang ia lakukan kepada
tiga orang sebelumnya. Akan tetapi lagi-lagi taqdir menimpa orang yang dari Ammuriyah ini, dia
wafat meninggal dunia.
Sebelum wafatnya ia juga berwasiat kepada Salman:
"Wahai Anakku, demi Allah aku tidak tahu masih ada seseorang di muka bumi ini yang
berpegang teguh kepada apa yang kita pegang, namun telah dekat sebuah zaman, dimana zaman
itu akan muncul seorang nabi dari Arab (Muhammad bin Abdullah).
Dia diutus membawa agama Ibrahim, kemudian dia berhijrah dari negerinya ke negeri yang
berpohon kurma diantara kedua gunung hitam, dia mempunyai tanda-tanda sangat jelas, dia
menerima hadiah dan tidak menerima sedekah, diantara kedua pundaknya terdapat stempel
kenabian, jika kamu mampu berangkat ke negeri itu maka lakukanlah."
Setelah itu laki-laki itu meninggal dunia.
Mereka menjawab, "Ya kami akan membawamu."
Apa yang terjadi setelahnya?
Setelah kematiannya, Salaman Al-Farisi tinggal di Ammuriyah cukup lama, dan ketika ada
pedagang Arab dari kabilah Kalb melewati daerah tempat tinggal Salman, ia langsung menemui
rombongan mereka dan berkata kepada mereka: "Aku akan memberikan sapi-sapi dan kambing-
kambingku ini kepada kalian jika kalian mau membawaku ke Bumi Arab."
Setelah sampai di Wadil Qura, mereka malah menjual Salman Al Farisi, dan dibeli oleh seorang
Yahudi dan akhirnya Salman menjadi budak yang harus melayaninya. Masyallah..
Tidak lama kemudian datanglah seseorang dari Bani Quraidhah, dia membeli Salman Al Farisi
dan membawanya ke Yatsrib. Dengan kemudahan dari Allah dan petunjuknya, Salman akhirnya
melihat pohon-pohon kurma seperti yang dikatakan seorang laki-laki dari Ammuriyah. Ya, itulah
Yatsrib (Madinah).
Maka setelah itu, Salman Al Farisi tinggal bersama majikannya di Madinah, sedangkan pada saat
itu Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam belum berhijrah ke Yatsrib dan masih berada di
Makkah.
Waktu telah berganti, Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya berangkat
hijrah menuju Madinah.
Ketika nabi dan para sahabat sudah datang, Salman Al Farisi sedang berada di pucuk pohon
kurma sedang melakukan pekerjaan. tiba-tiba ada orang yang berkata bahwa telah datang
seorang laki-laki yang mengaku nabi dan dia sedang bersinggah di Quba’.
Mendengar hal itu Salman langsung turun dan berkata kepada orang itu, "Apa yang tuan katakan
tadi? Tolong ulangi sekali lagi." Majikan Salman marah mendengar hal itu dan menamparnya
seraya berkata, "Apa urusanmu dengannya, kembalilah kepada pekerjaanmu."
Salman Al Farisi tetap berusaha ingin bertemu dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
Kegigihan Salman Al Farisi dalam mencari kebenaran masih begitu kuat.
Singkat cerita, pada sore hari Salman Al Farisi berangkat menemui Rasulullah sambil membawa
kurma, dia berkata kepada Rasulullah:
"Aku mendengar bahwa engkau dan sahabat-sahabat Engkau yang shalih sedang membutuhkan
uluran tangan, makanlah kurma sedekah ini dariku."
Rasulullah memerintahkan sahabat-sahabatnya makan kurma tersebut dan beliau sendiri tidak
makan.Salman berkata dalam hati "Inilah bukti pertama, beliau tidak menerima sedekah."
Kemudian Salman pun pulang.
Tatkala Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sudah masuk Madinah dan meninggalkan Quba’,
Salman kembali menemuinya dengan membawa kuram. Dia berkata, "Aku melihatmu tidak
makan sedekah, maka makanlah kurma ini sebagai hadiah dariku."
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam pun makan sebagian dan sahabat-sahabatnya juga
memakan kurma tersebut. Salman berkata dalam hati, "Inilah bukti kedua, beliau menerima
hadiah."
Suatu ketika Salman Al-Farisi melihat Rasulullah sedang menguburkan sahabatnya dan
menyibakkan kain yang berada dipunggungnya, Salman pun berusaha melihat punggung
Rasulullah ingin melihat stempel kenabiannya.
Rasulullah mengetahui maksud Salman, beliau menurunkan kain bajunya dan Salman benar-
benar melihat stempel kenabian tersebut. Salman Al Farisi menangis sembari memeluk
Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Lalu Rasulullah berkata, "Ada apa dengan mu?"
Salman Al Farisi menceritakan kisah kehidupannya dalam mencari kebenaran dari awal hingga
akhir,Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam sangat kagum mendengar kisah tersebut begitu juga
para sahabat.
Akhirnya Salman Al Farisi masuk Islam
"Kalau iman itu ada di bintang Tsurayya niscaya orang-orang dari mereka tetap akan
mengambilnya." Kata Rasulullah sambil meletakkan tangannya dipundak Salman Al Farisi
Terakhir, Salman adalah sahabat yang mempunyai peran penting dalam Islam, dialah yang
memberikan usulan dalam membangun parit di perang Khandaq sehingga kemenangan ada di
tangan kaum Muslimin.
Dari kisah di atas, bisa kita simpulkan:
Sekian dari Abana, Kisah Salman Al-Farisi dalam Mencari Kebenaran
Penulis Ummu Zaid
Refrensi: Shuwaru Min Hayatis Shahabah Dr.Abdurrahman Ra'fat Basya
Tag Hafalan:
1. Salman al-Farisi lahir di desa Jayyan
Kisah Perjalanan Hidup Salman Al Farisi dalam Mencari Kebenaran dimulai dari meninggalkan
orangtuanya, meninggalkan kehidupan mewahnya lalu memulai perjalanan dari kota ke kota
lainnya serta nasibnya sebagai budak dan ditipu oleh kafilah Arab. Subhanallah.. indah dan indah
sekali perjuangannya.
-
Salman al-farisi asli pemuda persia, penduduk kota Ashbahan
-
Sebelum masuk islam, Salman beragama Majusi
-
Salman Al-Farisi berhijrah dalam mencari kebenaran sebanyak 5 kali demi mendapatkan
kebenaran agama (Syam, Al-Mushil,Nashibin, Ammuriyah dan Madinah/Yatsrib)
-
Sebelum berjumpa dengan Rasulullah, Salman al-Farisi pernah menjadi budak milik
seseorang dari Bani Quraidhah
-
Salman Al-Farisi masuk islam setelah Rasulullah sampai (hijrah) di Madinah.

Comments
Post a Comment