Kisah Uqbah Bin Amir Al Juhani Penuh Hikmah
Uqbah bin Amir Al Juhani- bercerita sesosok sahabat nabi yang dahulu dia adalah seorang
pengembala kambing, namun setelah dekat dengan Rasulullah shalallahu alaihi wassalam beliau
menjadi seorang sahabat yang sangat mulia dan berjasa kepada Islam. Kisah hidup Uqbah bin
Amir dimulai setelah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wassalam menginjakkan kakinya di
pinggiran Yatsrib setelah perjalanan dan penantian panjang di Madinah.
Pada saat itu orang-orang Madinah langsung memenuhi jalan-jalan kota Madinah dengan
menyuarakan tahlil dan takbir. Mereka amat berbahagia dan ingin bertemu dengan Nabi
pembawa rahmat bersama sahabatnya Abu Bakar Ash-Siddiq.
Kaum wanita yang biasa tinggal di rumah-rumah mereka, anak-anak yang biasa main di
halamannya, serentak naik ke atap atap rumah untuk melihat Rasulullah shalallahu alaihi
wassalam.
Ketika rombongan Rasulullah telah sampai, mereka berjalan dengan tenang di antara kerumunan
orang banyak, beliau dikelilingi oleh wajah-wajah yang penuh kerinduan, dipayungi oleh hati-
hati yang penuh harap dan diiringi oleh air mata kebahagiaan dan senyum kegembiraan.
Namun nampaknya Uqbah bin Amir al Juhani tidak menyaksikan rombongan Rasulullah
tersebut, ia tidak turut serta menyambut beliau bersama orang banyak. Hal itu disebabkan karena
dia sedang berada di daerah pedalaman dengan kambing-kambingnya. Dia tidak mau
meninggalkan kambingnya sebab khawatir jika kambingnya akan kelaparan dan mati. Padahal
kambing-kambing itu adalah harta satu-satunya yang dimiliki Uqbah.
Meski begitu kabar kedatangan Nabi ke Madinah tetap terdengar oleh Uqbah. Sebab
kebahagiaan yang menyelimuti seluruh penjuru Madinah terus menyebar sehingga menjangkau
daerah-daerah di sekitarnya. Baik yang dekat maupun yang jauh (plosok), kebahagiaan itu
menyinari setiap jengkal buminya yang baik, cahaya kebahagiaan ini akhirnya sampai pula
kepada Uqbah bin Amir Al Juhani yang saat itu sedang bersama kambing-kambingnya di daerah
pedalaman.
Kisah Uqbah bin Amir Al Juhani bertemu dengan Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam
Setelah kegembiraan kota Madinah sampai kepada Uqbah. Kemudian ia bercerita bagimana
pertemuannya dengan nabi. Uqbah berkata:
"Rasulullah datang ke Madinah sementara aku sedang menggembalakan kambing kambing ku,
begitu aku mengetahui kedatangan beliau aku langsung meninggalkan kambing-kambing ku dan
berangkat menemui beliau tanpa menunggu apapun, ketika aku bertemu dengan beliau aku
berkata, 'Engkau membaiatku ya Rasulallah?' Beliau bertanya, 'Siapa kamu?' Aku menjawab,
'Uqbah bin Amir Al Juhani.'
Rasulullah bertanya, 'Mana yang kamu sukai baiat orang pedalaman atau baiat hijrah?' Aku
menjawab, 'Baiat hijrah.' Lalu Rasulullah shalallahu alaihi wassalam membaiat aku seperti
beliau membaiat orang-orang Muhajirin. Aku tinggal bersama beliau satu malam, lalu aku
kembali mencari kambing-kambingku."
Tatkala itu Uqbah tidak sendirian, tapi ia berbaiat bersama 12 orang yang telah masuk Islam dan
sama-sama tinggal jauh dari Madinah untuk menggembala kambing kambing mereka di daerah-
daerah pedalaman.
Lalu sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain, "Kita tidak akan mendapatkan
kebaikan jika kita tidak datang kepada Rasulullah satu hari demi satu hari, kalau kita datang
maka kita bisa belajar agama kepada beliau dan mendengarkan wahyu langit yang turun kepada
beliau. Jadi, hendaknya salah seorang dari kita pergi ke Yatsrib setiap harinya. Sementara waktu
kita bisa meninggalkan kambing-kambingnya dulu"
Mendengar perbincangan itu, Uqbah berkata, "Pergilah kalian kepada Rasulullah satu persatu,
siapa yang pergi silakan meninggalkan kambing-kambingnya kepadaku, biarkan aku gembala."
Dia berkata demikian karena Uqbah sangat menyukai kambing-kambingnya.
Setelah itu Uqbah bercerita lagi:
"Teman-temanku mulai hilir mudik datang dan pergi menemui Rasulullah satu persatu dan
meninggalkan kambing-kambingnya kepadaku untuk aku gembalakan. Jika dia datang maka aku
mengambil apa yang mereka dengar dari Rasulullah, aku mengambil apa yang dia pahami.
Namun hal itu tidak berlangsung lama.
Aku mulai berkata kepada diriku sendiri, 'Duuh, celaka kamu hanya karena beberapa ekor
kambing yang harganya tidak seberapa kamu rela kehilangan kesempatan menyertai atau
menemui Rasulullah? Sehingga dapat mengambil ilmu langsung dari beliau tanpa perantara?'
Saat perasaan itu membayangiku, seketika aku meninggalkan kambing-kambingku dan ikut pergi
ke Madinah untuk tinggal di masjid tepatnya di samping Rasulullah."
Uqbah bin Amir Bersama Nabi Muhammad dan Para Sahabat lalu Menjadi Orang Berjasa dalam Islam
Uqbah bin Amir tidak pernah menduga sebelumnya kalau dia akan mengambil keputusan
tersebut. Mungkin setelah ia bersama nabi dia akan menjadi seorang ulama di deretan para ulama
besar, dia akan menjadi seorang syekh diantara para syekh, dia akan menjadi panglima di antara
para panglima penakluk yang gagah berani dan ia akan menjabat sebagai seorang gubernur di
antara para gubernur Islam yang diperhitungkan.
Dan semua itu terjadi, Uqbah bin Amir tidak pernah membayangkan bahwa pada saat dia
melepaskan diri dari kambing-kambingnya dan pergi untuk menemui Rasulullah, ternyata
setelahnya dia akan berada di deretan depan pasukan kaum muslimin yang membuka Damaskus
dan di sana dia membangun sebuah rumah diantara kebun-kebunnya yang hijau di salah satu
pintu kuno di Damaskus.
Dia tidak pernah mengira bahwa dia akan menjadi salah seorang panglima yang membuka
Zamrud dunia di Mesir dan bahwa dia akan menjadi salah seorang gubernur nya dan membangun
sebuah rumah di puncak gunung al muqattham. Uqbah bin Amir Al Juhani menyertai Rasulullah
shalallahu alaihi wassalam seperti bayangan yang selalu mengikuti tuannya.
Kesetiaan Uqbah Al Juhani Terhadap Nabi
Uqbah memegang tali kekang kendaraan Nabi kemanapun ia berjalan, dia berjalan di depan
beliau ke mana beliau melangkah dan tidak jarang Rasulullah shalallahu alaihi wassalam
memboncengkannya di belakang beliau. Sehingga dia dikenal dengan nama Radif
Rasulullah (pelayan nabi) dan terkadang nabi turun dari punggung kendaraannya agar Uqbah
yang mengendarai nya, sedangkan nabi sendiri memilih untuk berjalan kaki.
Uqbah bin Amir berkisah tentang dirinya bersama nabi, "Aku pernah menuntun kendaraan Nabi
di sebagian hutan Madinah, beliau berkata kepadaku, 'Wahai Uqbah, maukah kamu naik?' Kala
itu aku ingin menjawab, 'Tidak.' Namun aku khawatir hal itu merupakan kedurhakaan kepada
Rasulullah.
Aku berkata, 'Ya, Wahai Rasulullah.' Maka Rasulullah turun dari kendaraannya dan aku naik
untuk mengikuti permintaan beliau, sementara Rasulullah sendiri memilih berjalan kaki. Namun
tidak lama kemudian aku pun turun dan beliau naik. Kemudian beliau bersabda,
'Wahai Uqbah, maukah kamu aku ajarkan 2 surat yang tidak ada tandingannya?' Aku
menjawab, 'Baik, ya Rasulallah.' Maka nabi membacakan kepadaku surat an-nas dan surat Al
Falaq, kemudian ketika shalat beliau maju dan imam dengan membaca keduanya, beliau
bersabda bacalah keduanya setiap kamu hendak tidur dan bangun. Uqbah berkata, 'Aku
senantiasa membaca keduanya selama hidupku'
Keutamaan dan Kemuliaan Sahabat Nabi Uqbah bin Amir
Uqbah bin Amir Al Juhani meletakkan azzam nya yang kuat pada dua perkara yaitu ilmu dan
Jihad. Dia mengorbankan diri dan hartanya demi keduanya. Di bidang ilmu Uqbah menimba dari
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam yang mengalir deras sehingga dia menjadi
seorang muqarri', muhaddits, faqih, ahli faraidh, sastrawan dan penyair yang handal.
Uqbah termasuk orang yang bacaan al-qurannya bagus, jika malam tiba maka Uqbah mengambil
kitab Allah dan mulai membaca ayat-ayatnya. Saat Uqbah membaca al-Qur'an, hati para sahabat
menjadi khusyu' dan air mata mereka menetes karena takut kepada Allah ketika menyimak
bacaannya. Bahkan Umar Bin Khattab memanggilnya, beliau berkata, "Bacakan untukku
sebagian dari kitab Allah wahai Uqbah." Maka Uqbah menjawab, "Baik wahai Amirul
Mukminin."
|
Lalu Uqbah membaca ayat-ayat al-Quran yang mudah sementara Umar menangis sehingga |
|
janggutnya basah karena air mata. Uqbah meninggalkan mushaf dengan tulisan tangannya. |
Note: Sampai hari ini mushaf tersebut masih ada di Mesir di sebuah masjid yang terkenal dengan nama Jami' Uqbah bin Amir, di bagian akhir tertulis 'ditulis oleh Uqbah bin Amir.' Mushaf Uqbah ini termasuk mushaf paling tua yang ada di muka bumi, tetapi sebagian isinya telah hilang.
Adapun di bidang Jihad, maka Uqbah bin Amir ikut bersama Rasulullah shalallahu alaihi
wassalam dalam perang Uhud dan perang perang lainnya.Dia adalah salah seorang pahlwan
sekaligus petarung pemberani dalam menaklukkan Damaskus. Sampai sampai Ubaidah bin
Jarrah menghargainya dengan mengutusnya kepada Umar bin Khattab di Madinah untuk
menyampaikan berita gembira kemenangannya. Uqbah berangkat selama delapan hari delapan
malam, dia berjalan tanpa henti demi bisa menyampaikan berita tersebut kepada Umar bin
Khattab.
Uqbah adalah salah seorang panglima pasukan kaum muslimin yang menaklukkan Mesir
sehingga Amirul Mukminin Muawiyah Bin Abu Sufyan membalasnya dengan mengangkatnya
sebagai gubernur selama 3 tahun, kemudian Muawiyah mengirimnya untuk menaklukkan pulau
Rodos di laut putih.
Keterkaitan Uqbah bin Amir Al Juhani dengan Jihad sangat erat sehingga dia menghafal hadits-
hadits jihad didadanya dan secara khusus dia meriwayatkan untuk kaum muslimin Uqbah juga
pemanah yang jitu sehingga ketika dia ingin menghibur diri maka memanah adalah hiburannya.
Kisah Wafatnya Uqbah bin Amir Al Juhani
Uqbah wafat karena sakit dan pada saat itu beliau berada di Mesir. Beliau mengumpulkan anak-
anaknya dan berwasiat kepada mereka, "Wahai anak-anakku, aku melarang kalian dari tiga
perkara, jagalah tiga perkara tersebut, jangan menerima hadits Rasulullah kecuali dari orang
yang dipercaya, jangan berhutang sekalipun kalian harus berbaju sehelai kain dan jangan menulis
syair karena ia akan melalaikan kalian dari Al-Quran."
Di saat beliau meninggal, keluarganya menguburkannya di pelataran gunung al Muqattham,
kemudian mereka pulang melihat harta warisannya ternyata dia meninggalkan busur lebih dari
70 buah, setiap busur dilengkapi dengan tanduk dan anak panah, dia mewasiatkan kepada
keluarganya agar digunakan di jalan Allah. Semoga Allah memuliakan wajah seorang Qori',
Ulama sekaligus Mujahid di jalan Allah, Uqbah bin Amir Al Juhani.
Itulah kisah Uqbah Bin Amir Al Juhani. Beliau meninggalkan 3 wasiat yang sangat berharga:
hati hati dalam menerima hadits, jangan berhutang dan jangan melalaikan al-Quran. Baiklah
semoga kisah yang penuh hikmah ini bermanfaat buat kita semua.

Comments
Post a Comment