Tetangga Tetangga Rasulullah dari Abu Lahab hingga Orang Yahudi

 


Tetangga Tetangga Rasulullah dari Abu Lahab hingga Orang Yahudi

Ketika hidup bermasyarakat, pastilah tak luput akan interaksi dengan tetangga. Tak

menutup kemungkinan saat dilanda kesusahan, terlebih dulu kita butuh uluran bantuan

dari tetangga sekitar rumah dibandingkan sanak family.

"Empat hal yang termasuk kebahagiaan seseorang: istri yang shalihah, tempat tinggal

yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman. Serta empat hal yang

termasuk kesengsaraan seseorang: tetangga yang jelek, istri yang jelek, kendaraan yang

jelek, dan tempat tinggal yang sempit." (HR. Ibnu Hibban). Melalui hadis ini, keberadaan

tetangga merupakan salah satu indikator kebahagiaan Muslim.

Tetangga Tetangga Rasulullah dari Abu Lahab hingga Orang Yahudi

Masih terkait judul tulisan ini, Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- sebagai panutan

kita juga hidup bertetangga di Mekkah maupun Madinah. Jika diajukan sebuah

pertanyaan, "Siapa saja yang menjadi tetangga Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-

saat di Mekkah dan Madinah?".

Jawabannya, "Abu Bakar, Umar bin khattab, Usman bin affan dan Ali bin Abi

Thalib adalah sahabat dekat beliau yang tempat tinggalnya berdekatan. Ibaratnya,

nama-nama yang saya sebutkan berdomisili dalam lingkup satu Rukun Warga (RW).

Selain beliau berempat, paman Rasulullah yang namanya diabadikan di sebuah surah

dalam al-Quran yakni Abu Lahab juga termasuk tetangga Rasulullah -shalallahu alaihi

wassalam-.

Ibnu Ishaq berkata: "Orang-orang Quraisy yang suka mengusik Rasulullah -shalallahu

alaihi wassalam- di rumah beliau ialah Abu Lahab, Al-Hakam bin Al-Ash bin Umayyah,

Uqbah bin Abu Mu'aith, Adi bin Hamra' Ats-Tsaqafi dan Ibnu Al-Ashda' Al-Hudzali.

Mereka adalah tetangga Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-. Di antara mereka, yang

masuk Islam hanyalah Al-Hakam bin Abu Al-Ash" (Sirah nabawiyah: Sejarah lengkap

kehidupan Rasulullah, E-book diunduh dari scribd.com, hal 258).

Arqam bin Abu al-Arqam termasuk tetangganya Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam-.

Saat dakwah Nabi di Mekkah masih bersifat sembunyi-sembunyi, rumah al-Arqam yang

terletak di kaki bukit Shafa dekat Masjidil Haram dipilih Rasulullah -shalallahu alaihi

wassalam- sebagai tempat untuk mengajar agama Islam.

Di rumah al-Arqam inilah Umar bin khattab menyatakan diri untuk memeluk Islam, pada

tahun keenam dari kenabian. Begitu Umar masuk Islam, umat Islam yang selama ini

bersembunyi di rumah al-Arqam serentak keluar dan membaca takbir, kemudian

berjalan menuju Ka'bah untuk beribadah tanpa rasa takut sedikitpun. (Akrom khasani,

Metode dakwah Nabi Muhammad -shalallahu alaihi wassalam- di tengah pluralitas

masyarakat Madinah, 2014, hal 99).

Sepupu siti Khadijah, Waraqah bin Naufal juga tetangga Rasulullah -shalallahu alaihi

wassalam-. Ia adalah seorang penganut Nasrani. Dikenal sebagai sosok yang anti

dengan miras, mendalami Taurat dan injil. Wafat di awal kenabian Rasulullah dalam

keadaan usia tua dan buta (H. Fuad Hashem, Sirah muhammad Rasulullah Kurun

makkah : Suatu Penafsiran Baru, Penerbit mizan, hal 123).

Sewaktu Khadijah dicurhati oleh Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- tentang

peristiwa di Gua hira', Siti Khadijah menemui Waraqah. Waraqah berkata, "Quddus,

Quddus! Demi dzat yang jiwaku berada dalam tangan-Nya, jika engkau mempercayaiku,

wahai Kahdijah! Sungguh Jibril telah datang padanya sebagaimana Allah

menurunkannya kepada Musa. Dan sungguh ia merupakan Nabi umat ini." (Prof. Dr.

Abdurrahman Umairah, Taman-Taman Cinta Kisah-Kisah Kekasih Hati Nabi SAW Penuh

Hikmah dan Kesejukan, 2008, hal 14-15)

Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- bertetangga dengan

Ahli suffah yang menetap di area Masjid Nabawi. Jika mempelajari sejarah kemunculan

Tasawuf, pasti akan mendapati kisah kelompok ini. Abu Hurairah adalah tokoh sentral

dari Ahli suffah. Sahabat Rasul yang paling banyak meriwayatkan hadis itu menjadi

semacam penghubung antara Rasulullah dan Ahli Suffah bila Rasul bermaksud

mengundang mereka (M. Quraish shihab, Membaca sirah Nabi Muhammad saw,

Lentera hati, hal 609-610).

Orang-orang pada masa jahiliyah memanggil Abu Hurairah dengan Abdu Syamsin

(Hamba Matahari). Begitu Allah Subhanahu Wata'ala memuliakan dirinya dengan Islam

dan bertemu dengan Nabi Saw yang bertanya kepadanya: "Siapa namamu?" Ia

menjawab: "Nama saya adalah Abdu Syamsin." Lalu Rasulullah -shalallahu alaihi

wassalam- bersabda:

"Bukan. Namamu sekarang adalah Abdurrahman." Ia membalas: "Baik. Namaku mulai

sekarang adalah Abdurrahman. Demi ibu danayahku, ya Rasulullah!" Sedangkan ia

dijuluki dengan nama Abu Hurairah (bapak kucing), karena saat ia masih kecil ia

memiliki seekor kucing kecil yang selalu bermain dengannya. (Dr. Abdurrahman Ra'fat

al-Basya, Kisah heroik 65 Sahabat Rasulullah saw, 2008, hal 371).

Bilal bin Rabah dan Mu'adz bin Jabal tidak boleh kita lewatkan sebagai tetangga

Rasulullah -shalallahu alaihi wassalam- di Madinah. Beliau berdua tinggal dan menetap

di dekat Masjid Nabawi. Bilal menjadi muadzin dan senantiasa bersama Rasulullah

dalam perjuangan menegakkan agama islam. Sementara Mu'adz bin jabal adalah

penduduk asli Madinah. Beliau adalah tokoh terkemuka dari kaum anshar. Masuk Islam

dalam usia masih muda. (Drs. Muhsin M.K, Bertetangga dan Bermasyarakat Dalam

Islam, hal 92-94).

Baca juga: 12 Adab Bertetangga Dalam Islam Beserta Dalilnya

Di Madinah, Rasulullah pernah bertetangga dengan seorang Yahudi. Buktinya beliau

bermuamalah dengannya dan sampai menggadaikan baju perangnya. Dari Aisyah,

beliau berkata:

"Rasulullah wafat, sedangkan baju perang beliau masih digadaikan kepada seorang

Yahudi dengan nilai tiga puluh sha' gandum". Mengutip artikel Ustadz Abu Nasim

Muktar dalam Majalah Asy-Syariah edisi 81, Satu sha' terdiri dari empat mud. Adapun

satu mud seukuran empat kali dua telapak tangan. Di dalam Musnad asy-Syafi'i

disebutkan bahwa kuniah orang Yahudi itu adalah Abus Syahmah.

Demikianlah tulisan saya tentang siapa saja yang bertetangga dengan Rasulullah -

shalallahu alaihi wassalam- di Mekkah dan Madinah. Sepanjang hidupnya, beliau

dikelilingi sahabat-sahabat yang setia mendukung misi dakwahnya. Sekligus akan

menjadi tetangga Rasulullah di Surga.

Disamping itu ada yang menghambat laju dakwah beliau seperti Abu Lahab. Tentu saja

masih banyak tokoh atau sosok yang belum dijabarkan di sini. Saya berharap, ada

orang lain yang akan menyempurnakannya. Wallahu'allam

Oleh : Fadh Ahmad Arifan (Penulis adalah pengajar Sejarah kebudayaan Islam di MA

Muhammadiyah 2 Malang)

Comments

Popular posts from this blog

Selamat Datang di akademi siroh

Biografi Umar bin Abdul Aziz

Kisah Muhammad bin Sirin